Hidup Tanpa Senandika

Definisi senandika dari KBBI Daring

Saya baru pertama kali mendengar senandika. Terdengar sangat indah dan cocok dijadikan nama, begitu pikir saya. Saat membaca definisinya, saya semakin terkejut, ooohh adegan di sinetron saat si tokoh berbicara sendiri itu disebut senandika. Sinetron Indonesia kan memang sudah tersohor dengan senandika yang hiperbolis. Kamera menyorot si tokoh dengan sangat dekat disertai suara latar belakang yang dramatis.

Namun saya sendiri juga rasanya sangat sering bersenandika. Otak saya sering sibuk berbicara sampai saya pesimis bisa bermeditasi karena ketika itu dalam pemahaman saya, saat bermeditasi harus fokus dan mengosongkan pikiran. Duh, mana bisa. Ternyata ada loh orang-orang yang tidak bersenandika atau tidak memiliki inner voice atau internal monologue.

Continue reading “Hidup Tanpa Senandika”

“Morning Person”: Bawaan lahir atau Kebiasaan?

Bangun pagi adalah hal yang paling berat buat saya. Dulu kalau libur sekolah, saya sering sekali shalat subuh menjelang matahari terbit, setelah itu masih lanjut tidur. Ketika kuliah pun demikian, kalau kelasnya siang ya saya bangun siang. Kalau kelas pagi, saya tergopoh berlari masuk kelas agar tidak terlambat. Aktivitas di rumah pun memang cenderung dimulai lebih siang kalau bukan hari sekolah. Kalau diibaratkan mesin, saya tuh lama panasnya.

Continue reading ““Morning Person”: Bawaan lahir atau Kebiasaan?”

Adaptasi Kebiasaan Baru: Pakai Menstrual Cup!

Sebenarnya sudah sejak 3 tahun lalu saya tahu mengenai menstrual cup dan sudah satu tahun maju-mundur cantik mau menggunakannya. Hanya saja, ketika itu saya masih merasa ngilu membayangkan memasukkan sesuatu yang terpasang dalam waktu lama dalam tubuh karena saya belum pernah memakai tampon.

Selama lebih dari setengah usia saya, saya selalu menggunakan pembalut sekali pakai. Kalau dihitung entah sudah berapa banyak jumlahnya. Hingga akhirnya, pada bulan Maret saya mengikuti lomba dengan tema circular economy dan fokus pada sampah plastik. Saya dan kawan satu tim saya memilih fokus pada limbah popok dan pembalut. Barulah saya semakin yakin menggunakan menstrual cup, karena pembalut bisa menimbulkan banyak masalah dan hingga saat ini teknologi dan teknik untuk mengolahnya belum accessible, sehingga mau tidak mau masuk kategori sampah residu.

Saya juga merasa harus walk the talk, kalau peduli soal isu ini, saya juga harus berubah. Karena hijrah ke popok kain bagi saya masih sulit, maka saya fokus pada apa yang bisa saya lakukan sendiri. Maka dimulai lah perjalanan saya menggunakan menstrual cup.

Jika masih ragu menggunakan menstrual cup atau butuh ulasan mengenai produk menstrual cup lokal silakan lanjutkan membaca tulisan ini. Namun, mohon diingat, tulisan ini akan sedikit ‘vulgar’ dan TMI alias too much information agar lebih detail penjelasannya.

Continue reading “Adaptasi Kebiasaan Baru: Pakai Menstrual Cup!”

Menghadapi, Menerima dan Menjalani “Option B”

Tulisan ini dibuat sebagai resume sekaligus refleksi bagi saya setelah membaca buku “Option B: Facing Adversity, Building Resilience and Finding Joy” karya Sheryl Sandberg dan Adam Grant dalam rangka mengikat ilmu dengan tulisan hehe. Semoga bermanfaat juga untuk yang lain.

Continue reading “Menghadapi, Menerima dan Menjalani “Option B””

Kenangan di Perpustakaan

Sesungguhnya saya baru tahu kalau tanggal 14 September itu diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Sebenarnya saya juga bukan orang yang terlalu fanatik buku, saya juga merasa belum pantas disebut kutu buku. Kayanya saya lebih tepat disebut sebagai Tsundoku alias tukang numpuk buku tapi tidak pernah dibaca. Duh. Ini terjadi sejak saya mulai bisa menabung untuk membeli buku sendiri, sebelumnya saya biasa dibelikan buku oleh Mamah atau Paman saya, atau meminjam dari taman bacaan.

Continue reading “Kenangan di Perpustakaan”

Jalan-Jalan ke Kota Lumpia, Semarang

Sejak Aiza lahir, saya dan suami belum pernah traveling ke luar kota bersama kecuali Bandung. Kalau suami sih sering pergi ke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Huh #sirik. Lalu di bulan Desember ada teman suami yang akan menikah di Jepara, dan bersedia menyewakan tempat menginap bagi yang mau hadir. Yippie! Akhirnya suami mengajak pergi ke Jepara lalu sambung ke Semarang untuk jalan-jalan.

Continue reading “Jalan-Jalan ke Kota Lumpia, Semarang”