Relasi Anak-Orang Tua : Polemik Anak Durhaka vs Pengasuhan Toksik

Sebenarnya sudah dari lama ingin menuliskan mengenai ini. Sejak menjadi orang tua dan selama 28 tahun menjadi seorang anak yang dibesarkan di budaya timur, saya jadi lebih bisa melihat dari kedua sisi hubungan orang tua-anak. Apalagi setelah berumah tangga, ketika sudah bisa dan harus membuat keputusan sendiri.

Continue reading “Relasi Anak-Orang Tua : Polemik Anak Durhaka vs Pengasuhan Toksik”

Tika, Green Jobs, dan Ikigai

Tika bulak-balik merapikan rambut ikalnya yang sebenarnya sudah ia pastikan “sempurna”. Berkali-kali juga ia merapal do’a meminta kelancaran namun tautan video conference tersebut masih ia belum tekan. Jantung Tika berdegup terlalu kencang untuk sebuah wawancara pekerjaan secara virtual yang dijadwalkan hari ini, 18 Januari 2021. Namun, semua gugup dan resah ini memang linear dengan besar keinginan Tika untuk mendapatkan pekerjaan impiannya.

Continue reading “Tika, Green Jobs, dan Ikigai”

Membekali Anak dengan Asa

Sebagai seorang anak perempuan dan sekarang sebagai seorang ibu, saya makin menyadari pentingnya peran orang tua dalam membentuk pola pikir mereka sejak dini. Salah satu hal yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana membantu Aiza menjadi anak yang resilient–tangguh dan memiliki growth mindset. Karena saat saya tidak bisa mendampinginya di masa sulit Aiza nanti, kedua modal tersebut dapat membantu Aiza untuk bangkit.

Continue reading “Membekali Anak dengan Asa”

Kudapan Dewangga

Definisi dewangga dari KBBI Daring

Dewangga. Warna merah kekuning-kuningan, mungkin seperti warna jingga tua?
Saya tidak menyangka bahasa Indonesia memiliki kosakata spesifik untuk warna. Saat mengetahui definisi dari dewangga, pikiran pertama yang terbersit adalah jajanan anak SD yang berwarna terang. Makanan yang kabarnya pakai pewarna tekstil rhodamin B 🤣. Pokoknya, makanan yang bisa bikin mamah marah kalau saya ketahuan beli.

Continue reading “Kudapan Dewangga”

Hidup Tanpa Senandika

Definisi senandika dari KBBI Daring

Saya baru pertama kali mendengar senandika. Terdengar sangat indah dan cocok dijadikan nama, begitu pikir saya. Saat membaca definisinya, saya semakin terkejut, ooohh adegan di sinetron saat si tokoh berbicara sendiri itu disebut senandika. Sinetron Indonesia kan memang sudah tersohor dengan senandika yang hiperbolis. Kamera menyorot si tokoh dengan sangat dekat disertai suara latar belakang yang dramatis.

Namun saya sendiri juga rasanya sangat sering bersenandika. Otak saya sering sibuk berbicara sampai saya pesimis bisa bermeditasi karena ketika itu dalam pemahaman saya, saat bermeditasi harus fokus dan mengosongkan pikiran. Duh, mana bisa. Ternyata ada loh orang-orang yang tidak bersenandika atau tidak memiliki inner voice atau internal monologue.

Continue reading “Hidup Tanpa Senandika”

“Morning Person”: Bawaan lahir atau Kebiasaan?

Bangun pagi adalah hal yang paling berat buat saya. Dulu kalau libur sekolah, saya sering sekali shalat subuh menjelang matahari terbit, setelah itu masih lanjut tidur. Ketika kuliah pun demikian, kalau kelasnya siang ya saya bangun siang. Kalau kelas pagi, saya tergopoh berlari masuk kelas agar tidak terlambat. Aktivitas di rumah pun memang cenderung dimulai lebih siang kalau bukan hari sekolah. Kalau diibaratkan mesin, saya tuh lama panasnya.

Continue reading ““Morning Person”: Bawaan lahir atau Kebiasaan?”