Menembus Ruang dan Waktu

Saat ini saya berusia 29 tahun, Aiza berusia 3 tahun. Ulang tahun kami berdekatan, sama-sama di bulan Agustus. Pernikahan saya berusia 5 tahun. Juga diselenggarakan di bulan Agustus. Dalam satu bulan saya merayakan ulang tahun 3 peran dan 3 identitas saya and what a journey it has been! Tahun ini juga sangat berwarna dan menantang seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi ada satu hal penting yang saya sadari melalui peran saya sebagai ibu.

Usia pernikahan yang baru/sudah 5 tahun ini memberikan banyak pembelajaran, tapi kami berdua merasa sudah lebih bisa in sync dalam banyak hal, kami sudah sangat jarang bertengkar hebat. Perdebatan kecil tentu masih ada, percakapan yang membuat tidak nyaman juga masih terjadi. Tapi kami merasa kami sudah jauh lebih dewasa. Menjadi dewasa bersama-sama. Kami terkadang berkelakar, kami bisa akur seperti sekarang karena sudah terlalu sering bertengkar ketika masih berpacaran 😂.

Sekarang tantangan yang cukup besar bagi kami, terutama saya adalah menghadapi Aiza di fase threenager-nya. Polahnya makin lucu dan menggemaskan, juga “menggemaskan” 😅. Setiap hari ada saja konflik, Ibu maunya bagaimana, Aiza maunya apa. I have to choose my battle carefully. Saya sering merasa saya banyak mengalami kekalahan, terutama jika menyerah pada Aiza atau berakhir marah. Terkadang sulit mengajak otak depan (lobus frontal) saya untuk bekerja, tapi saya menuntut Aiza menggunakan otak depannya yang bahkan belum matang.

Belum lagi perubahan rutinitas dan siklus tidur Aiza. Biasanya dia sudah tidur siang dari jam 10 pagi, tidur malam jam 7, dan bangun pukul 5 pagi, paling telat pukul 6 pagi. Tetapi sekarang dia tidur siang lebih sore, yang berujung pada tidur lebih malam. Hal ini cukup membuat saya kelimpungan dan keteteran. Banyak agenda pribadi saya yang terbengkalai dalam proses adaptasi ini.

Namun, dibalik itu semua, Aiza juga lebih asyik diajak bermain bersama atau mengerjakan tugas rumah tangga. Ekspresi dan celotehnya kadang membuat tercengang. Walaupun tidak selalu bisa “on” dan sering kelelahan setiap saat menemani bermain, saya merasa senang bermain. Menggambar dan mewarnai bersama, menonton serial kartun My Little Pony bersama dan berdiskusi tentangnya, menyanyi dan menari, mencuci baju bersama, dan masih banyak lagi.

Hingga di suatu titik saya menyadari, menjadi orang tua, menjadi ibu, seperti mengizinkan saya pergi menembus ruang dan waktu, berhadapan dengan diri saya, Laksita kecil dari dua dekade yang lalu. Pasalnya, selama menjadi orang tua, saya dihadapkan pada permasalahan psikologis yang mungkin selama ini tidak saya rasakan, yang sangat mungkin berasal dari masa kecil saya. Inner child, begitu para ahli menyebutnya.

Pengalaman menjadi ibu seperti menembus ruang dan waktu lalu menuntut saya untuk merangkul dan menyayangi Laksita kecil (Photo by Jametlene Reskp on Unsplash)

Misalnya, ketika saya kesulitan menghadapi Aiza, atau gagal mengelola emosi saya, saya jadi berefleksi kenapa saya bisa bereaksi demikian, apakah ada trauma masa kecil, atau kebiasaan ibu saya yang secara tidak sadar saya tiru. Tapi di sisi lain, saat bermain saya juga seperti mengajak Laksita kecil bermain, terutama ketika menggambar bersama atau menaiki suatu wahana tertentu, berjalan-jalan ke tempat baru. Saya juga lebih bisa merasakan kebahagiaan pada hal-hal sederhana dan tertawa karena hal sepele. Saya juga tidak ragu untuk belajar bermain, feeding and nurturing my inner child supaya lebih waras dan bahagia bermain dengan Aiza.

Sepertinya suami saya pun merasa demikian, suatu ketika dia berkata “Seru ya ada Aiza.”

Namun, saya masih memiliki banyak tugas. Berdamai dengan inner child saya yang masih sering meledak-ledak dan tidak sabaran, yang ingin segala hal berjalan sesuai mau saya. Saya yang sering terjebak dengan pemikiran “seandainya saja…” ketika memikirkan masa lalu dan masa depan.

Saya masih harus belajar lebih present, belajar untuk lebih bisa berpikir, merasa, dan berada di dimensi ruang dan waktu saat ini. Menjadi orang tua yang lebih mindful, sabar, menjadi orang tua yang Laksita kecil dan Aiza butuhkan.

Featured Image: Pexels

#Writober2021
#RBMIPJakarta
#IbuProfesionalJakarta
#Tembus

5 thoughts on “Menembus Ruang dan Waktu

  1. Thanks for sharing, mbak Laksita.
    Waktu anakku 3 tahun itu rasanya memang badan luar biasa pegel ngikutin aktivitasnya, egonya. Di satu sisi bersyukur anak aktif sehat dan fitrah belajarnya berkembang. Di sisi lain harus atur energi dan emosi menghadapinya.

    Namun, enaknya anak 3 th itu bicaranya sudah jelas. Bisa diajak ngobrol jadi tantrum lebih berkurang dibanding usia sebelumnya.

    Semangat membersamai ananda ya mbak. Masa kecil anak dekat dg kita itu sebentaaar banget. Nanti bakal kangen deh main bersama.

  2. Terima kasih buat remindernya mbak Laksita. Memang menemani anak-anak dalam bertumbuh itu tantangan ujian kesabaran. Saya pun demikian, kalau sudah emosi seperti tanda saya harus menepi sebentar karena lelah. Waktu bersama anak-anak memang sebentar dan itu tak akan bisa terulang

  3. Anak mbak Laksita laki-laki juga yaah?

    Anakku malah udah lupa tidur siang wkwk saking juaraaangnya tidur siang Masya Allah, sejak usia 2,5 tahun XD

    Soal inner child rasanya tiap orang punya inner child berbeda ya. Dulu aku pikir innerchild itu cuma buat mereka yang masa kecilnya tersiksa gitu secara fisik ternyata ngga juga :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.