Eps. 4 – Diri (Track 9)

Nala dan Kelana punya luka. Sama seperti hampir semua manusia di Jakarta, provinsi sebelahnya maupun belahan bumi sebaliknya. Bisa tersayat dari luar karena orang tua, sahabat lama atau trauma. Namun, yang sering membekas dari Nala, Kelana dan mungkin miliaran lainnya adalah luka yang dibuat diri secara sukarela.

Tak mudah memang dengan umur yang tak lagi muda untuk tidak menikah. Tapi yang membuat Nala menderita jauh lebih dalam bukan tentang lisan teman dan saudara, melainkan ucapan konstan otak yang menghakimi diri tanpa ampun. Sudah sering Nala menjustifikasi dan merasionalisasi dengan data yang akurat tentang kondisinya sekarang, tapi pikiran negatif selalu mencari celah untuk membuat Nala terpuruk. Ini buruk, Nala tahu itu.

Hampir mustahil bagi Kelana untuk tidak merasa bersalah atas kematian Ibu. Kelana tahu Ibu bangga kepadanya walau ia terlalu sibuk di pekerjaan baru, sudah bosan ia mendengar Ibunya berbangga kepada tetangga saat diantar olehnya di akhir pekan untuk pergi ke tukang sayur langganan. Tapi itu tak ada apa-apanya dengan rasa benci terhadap dirinya sendiri saat mengutamakan uang daripada ruang dan waktu luang. Ini buruk, Kelana tahu itu.


Esok hari setelah mendapat pesan dari Kelana, Nala kembali bersiap dan merias diri untuk pertemuannya yang tertunda. Ia terhenyak, bagaimana cara berkomunikasi dengan pria yang baru saja ditinggal wafat oleh Ibunya? Apa yang harus ia katakan? Untuk menenangkan diri saja sulit bagaimana mencoba membalut luka orang lain? Apakah bisa menjalin hubungan kalau ia belum tuntas dengan dirinya sendiri?

Kelana mandi tanpa ekspektasi, depresi terus menghantui dan bertemu Nala hanya menjadi janji yang harus dipenuhi. Ia terhenyak, bagaimana kalau Nala adalah perempuan yang kembali bisa menyalakan keinginannya untuk tetap hidup? Bagaimana kalau pertemuan pertama langsung membuat ia jatuh suka? Akan tetapi, wanita mana yang mau menerimanya apabila meninggalkan dunia hanya satu-satunya hal yang saat ini dipikirkannya?

“Nala, aku bisa meneleponmu terlebih dahulu? Aku ingin bercerita sebelum bertemu”
“Silakan, aku juga ada yang ingin dibicarakan”

Pesan singkat itu menjadi awal mula percakapan mereka via ponsel. Dimulai dari perkenalan yang canggung, pertanyaan-pertanyaan klise, jeda diam yang cukup lama sampai akhirnya Kelana memberanikan menceritakan luka dan ketakutannya tidak dapat memenuhi ekspektasi Nala.

Tangis Kelana pecah dari jauh sana, cerita tentang Ibu, pekerjaan dan luka-luka lainnya didengar oleh Nala pada percakapan pertamanya. Tak terbayang oleh Nala seorang pria akan serapuh ini di depan perempuan yang ia bahkan belum pernah bertemu. Di sisi lain, Kelana sudah tidak punya pilihan, ia lebih baik bercerita kepada orang yang baru dikenal daripada temannya yang mungkin langsung menasihatinya untuk sabar tanpa mendengarkan sampai tuntas. Diam Nala menjadi penenang Kelana, membuatnya dapat terus membuka luka tanpa harus membuatnya menjadi bernanah.

Ingin segera Nala membalas dengan cerita tentang lukanya. Tapi ia tahan, ia tahu hidup bukan tentang kompetisi memamerkan siapa yang lebih banyak memiliki luka. Mendengarkan dengan empati menjadi satu-satunya hal yang dia bisa lakukan saat ini. Tak sadar tangis juga mengalir di pipinya, cukup deras, bukan hanya karena cerita Kelana namun lebih kepada bagaimana ia tahu bahwa orang di seberang juga memiliki luka.

Telepon itu berakhir dengan ucapan terima kasih dan sampai jumpa dua jam lagi. Kelana lega Nala masih tetap ingin bertemu dengannya walau tahu betapa terpuruknya ia. Nala tidak banyak bicara namun diakhir panggilan ia sempat berkata, “Kelana, terima kasih, mari ampuni diri kita masing-masing.”

2 thoughts on “Eps. 4 – Diri (Track 9)

Leave a Reply

Your email address will not be published.