7 Alasan Harus Mengunjungi Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park

Dari awal di Bali, saya memang sudah sangat ingin melihat Garuda Wisnu Kencana, karena patung tersebut sangat megah hingga bisa dilihat bahkan dari Pantai Double 6. Namun melihat di akun instagramnya, tiket masuknya cukup mahal. Jadi yasudah deh sempat mengurungkan niat untuk pergi ke sana.

Ternyata kami malah menghabiskan waktu seharian di sana dan sama sekali tidak menyesal. Walaupun membayar tiketnya cukup mahal, tetapi benar-benar sepadan dengan pengalaman yang kami dapatkan.

Foto patung GWK yang diambil dari jalan menanjak menuju ke patungnya.

Buat kalian yang masih galau perlu atau enggak berkunjung ke GWK saat menyambangi Bali, berikut ini saya buat daftar alasan yang bisa menyingkirkan kegalauan kalian:

1. Tiket bisa didapat dengan mudah

Untuk menghindari antrean panjang, GWK bekerja sama dengan pihak ketiga untuk penjualan tiket. Sehingga praktis beli tiketnya, bisa lewat online travel agent, bahkan ada jalur antrean khususnya sehingga antreannya lebih pendek.

Meskipun beli tiketnya online, tetap mudah kok redeem-nya. Jadi, dari parkiran kami membayar 5 ribu dan diberi semacam form, lalu setelah cuci tangan dan cek suhu kami bisa langsung naik shuttle gratis menuju kawasan GWK dan loket.

Di loket, eticket ditukar jadi tiket. Dapat tiketnya pun bermacam-macam, ada tiket minuman gratis, tiket masuk Asana Museum, tiket bingkisan gratis dengan syarat dan ketentuan khusus. Bahkan di sana ada juga self-service ticket, tempat kita bisa membeli tiket dari mesin, dan pembayarannya menggunakan kartu ATM.

Area sebelum gerbang masuk, ada pancuran air di dekat patung GWK “mini”

2. Fasilitas lengkap

Saya terkesan karena di sini ada mushola yang memadai, biarpun kecil tetapi bersih, dilengkapi AC dan tempat wudhu di dekat area sholat, jadi tidak perlu riweuh wudhu di toilet. Mushola ini letaknya ada di dalam restoran Jendela Bali.

“Potongan” patung Garuda di dekat area Lotus Pond

Jadi begitu sampai kami menukar tiket minuman gratis sambil lihat pemandangan yang indah, lalu sholat di mushola, baru kemudian menuju ke gerbang masuk.

Kalau shuttle yang membawa kita dari dan ke parkiran itu gratis, ada juga shuttle untuk di area dalam GWK, tetapi berbayar 30 ribu per orang. Shuttle ini akan membawa pengunjung dari gerbang masuk ke patung utama, baru setelah itu jalan ke pintu keluar.

Tetapi, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja, pelan-pelan sambil menikmati pemandangan karya seni di sepanjang jalan ke patung utama. Capek sih, Aiza juga mengira kita akan naik golf cart ini kaya di Bedugul. Dia berkali-kali bilang capek dan ingin digendong terus. Namun memang cuacanya cerah dan panas jadi bikin cepat capek. Akhirnya Ayah deh yang harus gendong-gendong Aiza terus. Sesungguhnya, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya saja banyak tangga dan cuacanya sangat panas.

Kalau tidak kuat berpanas-panasan, meminjam payung bisa menjadi alternatif. Di sini disediakan rental payung gratis juga, tapi sayang persediaannya sangat terbatas, sistemnya first come first get dan ada pengunjung prioritas juga seperti lansia dan ibu hamil.

Toilet yang berada di area GWK juga bersih dan memadai serta tersebar di banyak titik meskipun area luas tetap tidak sulit mencari toilet. Sebenarnya di dekat Plaza Garuda itu ada bioskop mini. Bioskop ini menampilkan film animasi Garuda Cilik tapi karena pandemi, untuk sementara fasilitas ini ditutup.

3. Edukatif

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, GWK areanya sangat luas dan kita benar-benar dimanjakan oleh berbagai karya seni berupa patung dan ukiran yang disertai penjelasan. Sehingga kita bisa sekalian belajar budaya dan agama Hindu masyarakat Bali. Kalau melakukan perjalanan dengan anak yang lebih besar bisa sekalian ngobrol-ngobrol dan menjelaskan keanekaragaman agama dan budaya di Indonesia.

Ukiran di salah satu sudut GWK tentang awatar Dewa Wisnu yang disertai penjelasan di depannya.

4. Ramah anak dan ramah disabilitas

GWK Cultural Park ini memang menargetkan keluarga dan berbagai kalangan sebagai pengunjung. Sehingga walaupun areanya luas dan juga banyak tangga, pengunjung yang membawa stroller atau kursi roda tidak akan terlalu kesulitan karena selalu ada ramp dan lift untuk membantu mobilisasi, juga ada shuttle yang siap mengantar berkeliling.

5. Ada penyewaan sepeda dan skuter listrik

Fitur ini saya pisah dari fasilitas karena skuter, sepeda, smart ants, gokar yang disediakan hanya bisa dipakai untuk berkeliling di area Lotus Pond dan lapangan seberang GWK. Jadi seperti salah satu wahana saja di dalam kompleks GWK, bukan untuk mengelilingi seluruh area GWK. Selain itu, buat saya ini memang daya tarik tersendiri mencoba mengendarai skuter elektrik hehehe.

Letaknya sudah dekat dengan patung utama. Kami mencoba naik smart ants, sebenarnya dia seperti skuter tapi bisa dipakai berboncengan, 2 orang dewasa dan 1 anak kecil yang berdiri di depan. Sebenarnya mirip dengan naik motor saja sih tetapi versi lebih mini. 

Foto sehabis bermain smart ants di Lotus Pond GWK. Seru!

Seru sekali. Aiza pun bilang itu seru banget. Pokoknya Ibu happy Aiza happy hehe. Durasinya rata-rata 15 menit dan tergantung kendaraannya kisaran harga sewanya adalah 30-60 ribu. Smart ants yang kami sewa tarifnya adalah 40 ribu.

Awalnya saya deg-degan dan tidak berani mengendarai sendiri, tapi setelah mencoba beberapa kali saya berani mencoba mengendarai sendiri sambil membawa Aiza. Sungguh sebuah pencapaian buat saya yang tidak bisa mengendarai motor walaupun bisa bersepeda hahahaha.

Clear skies, wide and green spaces. Perfect day!

6. Bali from Above 

Area GWK ini ada di daerah dataran tinggi, bahkan dulunya adalah gunung kapur, oleh karena itu saat di area GWK kita bisa melihat pemandangan Bali dengan horizon yang lebih luas.

Kita bisa lihat gunung yang menjulang dan pantai yang hijau-biru, cantik sekali. Benar-benar breathtaking. Bahkan ada tour Bali from Above di area patung utama. Jadi kita bisa naik lift menuju ke tempat yang berada tepat di bawah patung utama GWK, sepertinya kaya di Monas gitu deh, tapi harus bayar sebesar 50 ribu dan hanya ada di jam-jam tertentu. Tiketnya bisa dibeli langsung di area patung utama.

Area pameran Ogoh-ogoh di bawah patung utama, di ujungnya ada lift untuk wisata Bali from Above.

7. Pertunjukkan tari tradisional gratis

Pertunjukkan tari tradisional gratis ini beru dimulai beberapa hari sebelum kami berkunjung. Mungkin untuk menarik turis setelah sebelumnya sempat sepi karena PPKM level 3 di area Jawa dan Bali. Ada 2 jenis tari yang dipertontonkan Joged Bumbung dan Tari Kecak.

Joged Bumbung

Sehabis lelah berjalan dari patung utama, kami beristirahat di rerumputan di area Lotus Pond. Pukul 16.00 pertunjukkan Joged Bumbung dimulai.

Joged Bumbung merupakan tarian pergaulan dan mirip Jaipong. Sambil menonton, kita juga bisa sambil makan camilan karena ada stand makanan dan minuman yang tiba-tiba disiapkan menjelang pertunjukkan tari. 

Joged Bumbung Bali diiringi musik gamelan Bali.

Durasinya sekitar 30 menit. Ada dua penari, dan penarinya suka mengajak pengunjung untuk ikut menari. Bahkan saya pun memberanikan diri untuk maju ke depan saat diajak menari. Hahaha unleashing my inner dancer. Tariannya sungguh menghibur, Aiza juga sangat suka musiknya, dari awal hingga akhir dia sering mengangguk-anggukan kepala menikmati alunan musik gamelan Bali yang mengiringi penari.

Tari Kecak Garuda Wisnu

Selesai Joged Bumbung kami harus menunggu sekitar 1 jam untuk menonton Tari Kecak Garuda Wisnu. Selama 1 jam kami berlarian dan tiduran di rumput sambil mengobrol.

Awalnya Aiza sudah mau pulang, tidak mau menonton tari lagi katanya, tapi kami coba alihkan kebosanan Aiza dengan mengajak main, mendengarkan lagu Boboiboy sambil menari. Lomba lari, cerita-cerita sambil tiduran dan melihat langit. Hingga akhirnya sampai juga waktunya menonton Tari Kecak. 

Aiza awalnya takut dan menutup mata, katanya suaranya seram. Tetapi lama-lama dia tertarik dan serius sekali menontonnya. Sesekali kami terangkan juga apa yg terjadi. Untung Ayah sudah baca sinopsisnya jadi bisa mengerti alur ceritanya. Sinopsisnya ada di laman GWK, sebelum pertunjukan juga ada staf yang berkeliling membawa poster QR Code untuk mengakses sinopsisnya.

Intinya, tarian ini menceritakan asal-muasal bagaimana Garuda bisa menjadi tunggangan Dewa Wisnu. Ada adegan bertarung, serta dialog yang dinarasikan, dan tentu saja puluhan penari kecak dengan banyak sekali kombinasi koreografi yang menjadi pembangun suasana dan latar cerita. Pertunjukannya sangat bagus dan cukup dramatis, apalagi di bagian akhir penarinya menaiki ogoh-ogoh.

Closing pertunjukkan Tari Kecak Garuda Wisnu

Selesai pertunjukkan Aiza bilang ceritanya seru, hebat sekali si Garuda, kalau Aiza besar Aiza mau jadi Garuda juga katanya 😂. Alhamdulillah. Senang sekali Aiza bisa menikmati pertunjukkan sampai selesai, sesungguhnya di awal saya sempat agak deg-degan Aiza akan minta pulang di tengah-tengah, ternyata itu malah jadi salah satu memori yang membekas untuk Aiza.

Penutup

Overall, main ke sini melelahkan banget, jujur kami juga agak push the limit sih, apalagi Aiza juga sempat agak cranky karena capek, akibat tidur siangnya cuma sedikit pas di motor. Ayahnya berjuang banget harus gendong-gendong terus mirip kaya trip ke Nusa Penida. Namun karena kali ini kami menyesuaikan dan mengikuti pace kami sendiri jadinya yaa tetap happy.

Patung GWK dilihat dari area bermain skuter

Pokoknya berkunjung ke GWK totally worth every penny, the dance performances are also worth the wait. Berkunjung ke sini benar-benar menawarkan paket lengkap; bisa lihat karya seni, pemandangan yang cantik, menikmati suasana perbukitan dan batu-batu karang, juga melihat pertunjukkan tari dan pameran patung ogoh-ogoh. GWK Cultural Park is surely not to be missed.

Sweet spot untuk berfoto dengan patung GWK yang megah. Di sini ada juga jasa foto oleh fotografer dari pihak pengelola.
GWK tidak boleh dilewatkan jika menyambangi Bali

One thought on “7 Alasan Harus Mengunjungi Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park

Leave a Reply

Your email address will not be published.