Trekking dan Tengok Monyet di Ubud

Ubud merupakan salah satu destinasi yang sangat ingin saya kunjungi karena ingin mencari suasana baru, biar bukan cuma main pantai dan pasir hehe. Banyak juga yang ingin dikunjungi di Ubud, tapi apa daya cuma bisa mengunjungi beberapa. Ubud ini lumayan jauh, tapi day trip saja sudah cukup sih. Ayo, simak cerita selengkapnya!

Kami ke Ubud naik motor, excited banget dan sebenarnya banyak yang ingin dikunjungi tapi capek jadi cuma 2 destinasi wisata saja. Begitu melewati perbatasan terlihat sekali perbedaan Denpasar dan Gianyar, jalannya lebih kecil dan sepanjang jalan banyak ukiran batu dan kayu yang dipajang untuk dijual. Saat pertama kali sampai kami istirahat sebentar di Circle K, meluruskan kaki dan membeli susu dingin untuk Aiza supaya moodnya baik. Lalu kami menuju ke Ubud Center karena berdasarkan Google Maps dari sana kami bisa menjangkau Ubud Palace dan Ubud Art Market dengan mudah.

Sesampainya di sana, entah kenapa Ubud Palace sangat sepi, seperti tidak ada orang sama sekali. Kami jadi ragu dan akhirnya mengurungkan niat untuk masuk. Akhirnya kami ke Ubud Art Market untuk melihat-lihat. Sebenarnya banyak yang menarik; kain Bali, baju berbahan linen, tas, suvenir. Tapi karena sudah lama tidak berbelanja offline saya jadi merasa terintimidasi oleh penjual yang dengan agresif menawarkan barangnya hahahaha akhirnya kami hanya jalan sebentar lalu memutuskan pergi ke objek wisata selanjutnya.

Rice Terrace Trekking

Di antara destinasi wisata Ubud, kami ingin sekali mencoba trekking di kawasan terasering bersama Aiza. Pasti seru berlari-lari dengan pemandangan yang indah. Kami pun mencari “Tegalalang” di Google Maps, tapi ternyata kami sampai di antah berantah, tidak tahu dimana, ternyata salah input kata kunci 😅.

Lalu kami menuju “Tegalalang Rice Terrace”, sepertinya kami menuju ke arah yang benar karena ada semacam gapura yang menyambut kami dan penunjuk arah menuju kawasa wisata terasering, tapi anehnya ini bukan titik yang ditunjukkan oleh Gmaps, maka kami terus jalan. Ternyata, titik yang dituju Gmaps adalah sebuah restoran bernama Uma Ceking.

Awalnya bingung, tapi karena kami lelah dan haus jadi masuklah dahulu ke restoran itu. Kaget banget waktu lihat harganya hahahaha kami beli 1 gelas milkshake dan 1 kelapa muda utuh totalnya 85 ribu. Sempat merasa di-scam tapi ya pemandangannya bagus sih dan kami juga lelah dan ini karena ketidaktahuan kami juga.

Pemandangan dari restoran Uma Ceking

Di sana ada sawah terasering, dan beberapa spot foto yang bagus, tapi karena harus membayar lagi kami memutuskan berjalan-jalan di sawah saja. Jalurnya cukup menantang karena curam dan di beberapa area becek dan licin.

Namun Aiza sangat bersemangat. Bangga banget lihat Aiza mau terus mencoba meskipun beberapa kali terpeleset dan jatuh. Dia terus bilang “Aiza tidak menyerah, Aiza mau berusaha” 😍. Walaupun beberapa kali terhenti jalannya karena tidak betah ada tanah masuk ke sandalnya 🤣. Cuma sedikit saja dia digendong, kalau jalannya dirasa terlalu berbahaya, sisanya dia bersikeras jalan sendiri.

Aiza menjalankan misi penjelajahan.

Walaupun awalnya merasa tertipu tapi jadi senang karena Aiza bilang sangat happy berpetualang. Rupanya dia sangat semangat karena di awal Ayah bilang ini sebuah misi penjelajahan. Senang juga melihat betapa usaha kami untuk memuji proses Aiza melakukan sesuatu seperti membuahkan hasil berupa kegigihan Aiza untuk mencoba. Alhamdulillah.

Tetap ceria meskipun lelah menjelajah

Sacred Monkey Forest

Habis jalan-jalan dan makan siang, kami ingin berjalan-jalan ke tempat yang sejuk dan asri. Maka berangkatlah kami ke Sacred Monkey Forest. Untuk mengunjungi pura-pura dan area hutan lindung ini kami harus membayar 60 ribu untuk orang dewasa dan 30 ribu untuk anak-anak di atas 3 tahun.

Salah satu pura di area Sacred Monkey Forest

Sesungguhnya kami agak cemas saat masuk, karena di pintu masuk saja kami sudah disambut gerombolan monyet. Kami diwanti-wanti petugas untuk tidak membawa jinjingan kresek atau membawa barang yang bergelantungan di tas, bahkan menyimpan di saku luar tas pun tidak boleh, semuanya harus tersimpan rapi di dalam agar tidak menarik perhatian dan direbut para monyet.

Sesampainya di dalam kami duduk-duduk dulu menikmati suasana sejuk dan asri di dalam hutan. Selesai melepas penat kami menjelajah ke dalam hutan. Di dalamnya banyak sekali pura, dan kami menemui banyak orang yang sedang beribadah di sana.

Berfoto di hutan sehabis berjalan-jalan

Ternyata cukup melelahkan juga berjalan-jalan di sana. Untungnya kami tidak mengalami kejadian yang tidak mengenakkan dengan monyet di sana, tapi kami sempat menyaksikan monyet mengambil hand sanitiser yang digantung di salah satu tas pengunjung. Oh iya, kami juga sempat dihadang oleh monyet, tapi kami memilih menghindar dan menjauh walaupun jadinya kami tidak bisa melihat-lihat area tempat monyet itu berada.

Mencoba berfoto bersama monyet

Saat kami hendak pulang, menuju pintu keluar ada tempat penyimpanan makanan para monyet dan di sana kami melihat monyet yang sedang diberikan makan oleh petugas. Ada-ada saja ulah para monyet ini, ada yang berusaha mengambil langsung dari penyimpanan, ada yang merebut makanan dari monyet lain. Tetapi petugas yang memberi makan lebih galak dan mengintimidasi, seolah-olah dialah alpha male dari para monyet hahaha. Di sini Aiza juga didekati oleh monyet kecil dan dia tanpa takut berjalan ke arah Aiza, entah apa yang akan dia lakukan, alhamdulillah Ayah dengan sigap menarik Aiza menjauh dari monyet kecil itu.

Mencoba berswafoto bersama monyet meskipun agak takut hahaha

Penutup

Sebetulnya saya masih penasaran dengan Istana Ubud dan area lain di Ubud. Namun di sana sepi, bahkan di siang hari pun sepi entah bagaimana kalau di malam hari, akibat pandemi banyak daerah wisata yang seperti kota mati. Meskipun demikian Ubud cukup berkesan buat saya dan memenuhi dahaga kami untuk berwisata selain pantai. Tetapi jika ditanya apakah ingin balik lagi, saya kurang yakin hehe karena suasana pegunungan sudah sering saya temui di Bandung, jadi jalan-jalan ke Ubud ini hanya untuk menambah pengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.