Proses Tak Terduga Menyapih dengan Cinta

Usia Aiza di bulan Maret ini adalah 3 tahun 7 bulan, tidak ada niat kuat untuk menyapih Aiza. Bukannya tidak pernah mencoba, tetapi ketika melihat tangis Aiza hati ini tidak tega. Begitupun dengan suami. Beliau malah melontarkan pertanyaan yang menurut saya masuk akal.


“Memangnya kenapa harus disapih di usia 2 tahun?”

Suami bertanya karena sungguh-sungguh tidak tahu kenapa, apakah alasan dari segi kesehatan atau agama. Dia melihat tidak ada urgensi yang berarti jika tidak ada anjuran “wajib” menurut agama maupun kesehatan. Malah dia bilang lebih banyak manfaatnya melanjutkan menyusui kalau memang air susunya masih diproduksi. Saya pun terhenyak karena saya juga tidak tahu jawabannya.

Saya hanya tahu kalau sudah 2 tahun ya harus disapih. Padahal sebenarnya saat dipikir-pikir, di ayat Al-Quran pun hanya berupa anjuran untuk menggenapkan hingga 2 tahun, yang mana menurut pemahaman awam saya adalah sebaiknya menyusui anak hingga 2 tahun, bukan maksimal 2 tahun. Dari segi kesehatan pun sepertinya tidak ada larangan karena tidak ada bahayanya bagi kesehatan meskipun tentu saja ASI tidak lagi berkontribusi banyak untuk pemenuhan nutrisi.

Extended Breastfeeding

Saya lalu mencari jawaban ke laman resmi AIMI. Saya mencari dengan kata kunci menyapih, dan ternyata ada artikel yang membahas tentang pengalaman dan referensi yang mendukung extended breastfeeding.

Ternyata ada beberapa sumber yang merekomendasikan untuk melakukan extended breastfeeding. Jadi, bukan hanya weaning with love (WWL), tetapi extended breastfeeding karena menunggu kesiapan anaknya untuk berhenti menyusui. Salah satu manfaat yang saya ingat adalah anak menjadi lebih percaya diri dan mandiri karena bisa mengambil keputusan besarnya sendiri tanpa paksaan. Selain itu, beberapa penelitian menyebutkan anak yang disusui lebih dari 2 tahun memiliki rerata IQ yang lebih tinggi daripada anak yang menyusui kurang dari 2 tahun.

Setelah membaca artikel dari AIMI tersebut saya menjadi yakin untuk melanjutkan menyusui Aiza dan menunggu tanda kesiapan Aiza untuk mulai menyapih. Namun kami berdua menetapkan target bahwa Aiza harus sudah disapih di usia 4 tahun, supaya saya bisa lebih leluasa beraktivitas. Saya tidak terlalu menyengajakan mengurangi durasi atau frekuensi menyusui, tetapi dengan sendirinya frekuensinya berkurang.

Aiza hanya menyusu jika akan tidur atau butuh ditenangkan, terkadang juga dia minta menyusu jika dia bosan, tetapi cukup mudah dialihkan dengan diajak bermain. Hingga suatu ketika Aiza bisa tidur hanya dengan dibacakan buku oleh Ayahnya.

photo of a beautiful mother breastfeeding her baby
Menyusui hingga usia 3 tahun lebih, sudah tidak bisa sambil digendong seperti ini. (Photo by MART PRODUCTION on Pexels.com)

Mulai Menyapih

Beberapa kali tanpa sengaja dia juga tidur siang tanpa menyusui. Setelah berlangsung 3 hari, saya dan suami jadi yakin Aiza bisa mulai sedikit demi sedikit disapih. Proses ini berlangsung sejak tanggal 13 Maret 2022.

Akhirnya setiap waktu tidur malam saya sengaja tidak mendampingi dan hanya ditemani Ayah. Proses menyapih di malam hari lebih mudah karena Aiza sudah lelah dan dengan sendirinya terlelap tanpa drama. Berbeda dengan saat tidur siang, pernah 2X dia tantrum bahkan beberapa kali dia tidur siang atau baru tidur siang jika kebetulan diajak pergi menggunakan motor.

Saat Aiza tantrum, sebenarnya hati ini sempat goyah dan tidak tega, tetapi yang menguatkan saya adalah kesepakatan dengan suami serta ketidakinginan menyia-nyiakan usaha selama beberapa hari sebelumnya. Jadi ketika Aiza tantrum saya bisa menguatkan hati hanya menenangkan dengan memeluk dan berkata berulang-ulang bahwa Ibu sayang Aiza.

Proses menyapih yang tidak terduga dan dimulai secara tiba-tiba, tetapi lebih ikhlas dan legowo karena dimulai dengan kesiapan dan ketetapan hati dari saya dan suami, juga sinyal dari Aiza. Alhamdulillah Aiza sudah berhasil sedikit demi sedikit disapih tanpa kesedihan mendalam dari Ibu dan hanya disertai drama sesekali.

Drama yang terjadi sempat agak menyayat hati sih, karena Aiza mengamuk lama sekali sampai bilang “Aiza enggak sayang Ibu, Ibu enggak sayang Aiza.” 😭😭😭 Saya hanya bisa terdiam sambil berkaca-kaca berusaha tidak ikut meluapkan emosi.

selective focus photo of a kid crying
Aiza menangis sejadi-jadinya saat ditolak menyusui di jam tidur siang (Photo by Helena Lopes on Pexels.com)

Pernah ketika Aiza menangis saya bilang, Aiza kan sudah besar tidak butuh nenen. Aiza bilang, Aiza masih kecil, Aiza belum tinggi. Haduuh salah deh ngomongnya. Akhirnya saya ganti kalimat soundingnya, Aiza sudah bukan adik bayi, Aiza bahkan sudah bisa main dan sayang-sayang adik bayi. Sepertinya kalimat itu yang lebih mengena, apalagi belum lama dia bertemu dengan Dek Fathi, anak sahabat saya yang baru berusia 3 bulan.

Akhirnya di suatu kesempatan dia bilang sendiri, Aiza sudah besar, Aiza sudah bukan adik bayi jadi tidak butuh nenen lagi. Alhamdulillah.

Tantangan Setelah Menyapih

Sekarang tantangannya adalah membentuk rutinitas tidur siangnya, karena Aiza sering menolak dan bilang ingin main terus-terusan. Hal ini cukup membuat saya oleng juga sih karena ketika Aiza tidur siang adalah kesempatan saya untuk berisitirahat atau me time mengerjakan amanah di luar peran saya sebagai ibu rumah tangga. Selain itu, kalau dia mengalami big emotions juga jadi lebih susah menenangkannya. Kalau dulu tinggal ditawari menyusui. Kalau sekarang seringkali Ayah harus turun tangan. Untung beliau masih WFH.

Bismillah, belajar sama-sama lagi ya, Za.

Berbeda kalau malam hari, bisa lebih mudah dan rutinitasnya sudah lebih terbentuk seperti menyikat gigi, membaca cerita atau mengobrol, dan cuddling. Setelah menyapih malah menjadi lebih mesra karena mengobrol lebih banyak, saya senang melontarkan pertanyaan random dan seringkali terkejut dengan jawaban-jawaban Aiza. She’s grown so much huhu.

Penutup

Perjalanan menyusui, menyapih setiap anak dan setiap Ibu berbeda. Banyak suka dukanya. Terkadang saya pun merindukan masa-masa menyusui Aiza karena memang itu termasuk momen yang spesial dan tidak bisa diulang. Padahal dulu sering juga mengeluh ke suami kalau lelah menyusui hehe.

Dimana pun proses perjalanan menyusui kalian, brestfeed atau formula, semoga kalian menjalaninya dengan bahagia dan penuh rasa syukur yaa.

Jadi, bagaimana pengalaman menyapih kalian? Penuh drama atau malah tanpa drama? Share di kolom komentar ya.

Featured Image: Pexels

12 thoughts on “Proses Tak Terduga Menyapih dengan Cinta

  1. Teteh, dulu saya juga baru disapih umur 4 tahun lebih, waktu mau masuk TK :). Tapi ga sempat nanya sama Alm Mama kenapa dan bagaimana dulu menyapihnya.

    Sehat dan happy terus ya Aiza, anak pandai, stay strong juga Mamahnya

  2. Sebagai yang jauh dari keluarga, saya juga nyapih kedua anak dengan proses perlahan, bertahap. Takut-takut juga. Secara pengalaman keluarga biasanya nyapih dengan nitip ke eyang atau om-tante. AlhamduliLlaah lancar. Memang harus sabar sih ya… Demi kemandirian anak. Dan mamahnya juga tuh, yg pasti ada merasa kehilangan momen keintimannya…

    1. Hoo gitu yaa Teh, nitipnya tuh berapa lama?

      Alhamdulillah sudah terlewati ya Teh. Iya bener, harus sabar dan kuat hati. Hahaha iyaa beberapa minggu habis sapih suka bilang kangen menyusui ke paksu, dia cuma rolling eyes aja hahaha mungkin dalam hati ‘siapa yang kmarin2 ngeluh mau cepet sapih’

  3. Akupun menyapih anak waktu umur 3 tahun, teh. Ngga tega. Tapi ujungnya si kecil cuma takut kehilangan zona nyamannya. Dibantu suami sih untuk tegas ke anak agar bisa disapih

  4. Wah hebat teh bisa sabar extended breastfeeding. Anakku dua duanya menyapih diri umur 2 tahun 4 bulan. Pas yang kedua kebetulan punggung aku sakit banget kalau nyusuin. Mungkin karena 5 tahun nyusuin berturut-turut jadi ada efeknya ya. Alhamdulillah dua-duanya mau lepas sendiri dan nggak drama.

  5. Waaah memang menyapih itu lain-lain ya reaksinya anaknya. Syukurlah teh Aiza dah bisa lepas menyusu hehe.. pasti jadinya kangen ya masa-masa menyusui. Tapi pasti bisa kok memberikan cinta dengan cara yang lain, kan anak emang butuh ungkapan cinta yang selalu berkembang sesuai umurnya 🙂

  6. Cerita tiap menyapih emang beda-beda, tapi yang pasti, semuanya berawal dari kesiapan ibunya. Kalau ibunya belum siap, anaknya bakal tahu dan membuat ibu ga tegaan. Pengalaman saya sih anak pertama berhasil pas 2 tahun (di hari ultah nya), dan anak ke-2 cuma lewat sebulan. Tapi emang sayanya yang udah lelah duluan, jadi super siap buat berhenti, tapi ya pakai sounding2 gitu deh dari beberapa bulan sebelumnya. Sempat juga anaknya merayu lagi, tapi bisa dikasih tau kalau udah besar dan minum susu kotak aja hehhee…

    Perkara tidur siang, nah ini memang repot, tapi biasanya kalau ga tidur siang bisa disuruh tidur malam lebih awal. Kalau tidur siang malah tidurnya larut. Jadi kalau udah hampir 4 tahun, gak apa kali ga tidur siang, tapi ya malamnya disuruh masuk kamar lebih awal. Semangat teh!

Leave a Reply

Your email address will not be published.