Road Trip Jakarta ke Bromo dan Baluran: Itinerary Lengkap dan Tips Keluarga (1)

Akhir Mei lalu, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan yang sudah lama kami inginkan, berhubung banyak libur dan “hari kejepit”, Ayah mengambil cuti dan merencanakan bepergian selama 5 hari.

Awalnya, kami hanya ingin pergi ke Bromo karena memang sudah lama sekali ingin ke sana. Begitu pun dengan Baluran, sering tertunda karena kami merasa sangat jauh perjalanannya. Tetapi, karena bisa berlibur hingga 5 hari, dan menurut banyak teman bulan Mei adalah waktu yang tepat untuk berkunjung, akhirnya kami nekat untuk melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bromo lalu ke Baluran, dan ke Banyuwangi kalau sempat.

Kenapa ke Bromo dan Baluran?

Sebenarnya, rute kami ini juga rute yang “agak laen” karena biasanya jika ingin ke Bromo, orang akan singgah dan menginap di kota Malang. Pun dengan Baluran, biasanya orang mengunjungi Baluran dalam rangkaian kunjungan ke Kawah Ijen.

Namun, kami memutuskan untuk fokus pada bucket list kami. Maka dibuatlah itinerary selama 5 hari. Tentu saja, bukan Pak Alam namanya kalau tidak ada kejutan, dalam perjalanan kami singgah ke tempat yang sama sekali tidak ada dalam rencana. Sebelum bercerita tentang perjalanannya, simak persiapan yang kami lakukan ya!

Persiapan Sebelum Perjalanan

  1. Cek Kendaraan
    First things first, yang dilakukan sebelum road trip tentu mempersiapkan mobil. Kebetulan timing-nya pas dengan jadwal servis mobil tahunan. Aku engga terlalu paham perkara mobil, tetapi yang dicek dan diperbaiki saat servis adalah rem, ban, aki, oli, dan kondisi mesin secara keseluruhan. Meskipun belum jadwal servis tahunan, aku sarankan tetap cek mobil ke bengkel untuk memastikan keselamatan dan keamanan berkendara.
  2. Akomodasi
    Sewa penginapan dan sewa jeep sudah aku lakukan seminggu sebelum keberangkatan. Aku mendapat info penginapan dan sewa jeep dari teman, tetapi aku juga melakukan riset di Google dan online travel agent (OTA) untuk penginapan dengan harga, lokasi, dan fasilitas yang kami inginkan. Untuk hotel kami diharuskan membayar DP 50%, sedangkan untuk sewa Jeep kami bayar seluruhnya setelah wisata selesai.
  3. Itinerary
    Buat rencana perjalanan dan tempat atau objek wisata yang akan dikunjungi. Kalau memang suka dan memungkinkan, buat daftar restoran atau tempat kulineran yang ingin dicoba dan buat daftar prioritasnya karena sangat mungkin tidak semuanya bisa dicoba.
  4. Baju dan Perlengkapan
    Baju dan perlengkapan yang disiapkan tentu saja harus sesuai dengan itinerary, makanya penting untuk membuat itinerary di awal. Karena kami akan pergi ke puncak gunung dan pantai, kami membawa jaket-jaket tebal, juga baju dan peralatan renang serta baju yang nyaman untuk dipakai dalam perjalanan jauh; bahannya adem, santai tapi sopan, tidak terlalu tebal atau tipis, tidak ketat. Untuk memudahkan aku pakai 2 koper berbeda, 1 koper untuk baju dan perlengkapan untuk di Bromo dan 1 koper lagi untuk baju dan perlengkapan di Baluran.
  5. Penghalau Bosan
    Selama di perjalanan atau di penginapan sudah pasti Aiza akan merasa bosan, jadi kami bawakan komik favorit, buku gambar, beberapa main, juga mengunduh film atau series Netflix favoritnya. Tapi, peralatan “tempur” ini kami hemat-hemat untuk saat genting biar Aiza belajar menikmati bosan.Kalau di mobil sebisa mungkin kami banyak mengobrol atau menikmati pemandangan biar engga pusing atau mual. Jika sudah bosan, Aiza akan melamun dan lama-lama tertidur sendiri. Tetapi saat berhenti di rest area biasanya kami izinkan Aiza screen time atau baca komik.
  6. Makanan dan Obat-obatan
    Saat keberangkatan kami sudah berbekal roti, telur rebus, susu dan camilan. Jadi kami tidak harus berhenti untuk sarapan. Kami baru beristirahat saat menjelang makan siang. Selama di perjalanan kami selalu sediakan camilan favorit kami agak tidak bosan, dan tidak mengantuk. Jangan lupa juga sedia air minum yang cukup.Membawa bekal sangat membantu menghemat waktu perjalanan karena kalau makan di rest area, banyak waktu dihabiskan untuk menunggu pesanan dan makan. Kalau ada bekal, waktu di rest area bisa dimaksimalkan untuk istirahat, salat, menambah stok bekal, dan ke toilet.

Rute dan Itinerary Bromo

Kami melakukan perjalanan dari tanggal 29 Mei – 2 Juni 2025. Berikut adalah itinerary dan cerita perjalanan di Bromo. Untuk itinerary dan cerita perjalanan ke Baluran dan Bayuwangi akan dibahas di pos selanjutnya.
(❁´◡`❁)

Hari 1: Jakarta – Bromo via Probolinggo

Durasi perjalanan: 12-14 jam (dengan istirahat)

Kami berangkat jam 4.30 setelah salat subuh via tol Cipali, kemudian kami singgah di kota Cirebon. Di sana kami sarapan di restoran Empal Krucuk 3 yang berada tidak jauh dari gerbang tol Ciperna. Tempatnya sangat estetik, makanan enak, mushola dan toilet nyaman. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini sambil mengumpulkan tenaga untuk perjalanan sesungguhnya.

Setelah makan kami juga menyempatkan berkunjung ke Taman Air Gua Sunyaragi yang hanya berjarak 10 menit dari restoran. Kami dibuat terpukau oleh berbagai gua yang terbuat dari…batu karang! Sungguh unik dan memberi kesan agak mistis. Untuk masuk ke objek wisata ini orang dewasa harus membayar 15 ribu sementara anak-anak 10 ribu. Murah meriah.

gua sunyaragi cirebon - lycka.id gua sunyaragi cirebon - lycka.id

Foto-foto di Gua Sunyaragi Cirebon (Dok. Pribadi)

Dari Cirebon kami melanjutkan perjalanan via tol Trans Jawa. Kami berhenti di beberapa rest area yang tidak kami rencanakan, pokoknya kami berhenti tiap kali kami butuh istirahat, salat, dan makan.

Kami keluar di exit Tongas dan menempuh 12 km menuju penginapan Bromo Otix Guest House yang letaknya sudah sangat dekat dengan gerbang Taman Nasional Bromo Semeru Tengger (TNBST). Rute Probolinggo ini jalurnya landai dengan jalanan aspal yang lebar, menurut guide kami ini adalah jalur yang paling nyaman untuk menuju Bromo, hanya saja cukup jauh dari pusat kota sehingga tidak banyak yang bisa dikunjungi dan butuh waktu cukup lama sejak keluar tol untuk mencapai penginapan.

Untuk mencapai penginapan, kami harus melewati “gerbang masuk” yang dikelola oleh warga, sepertinya kami harus membayar tiket masuk, tetapi kami sudah diwanti-wanti oleh pemilik Jeep untuk mengatakan kami adalah tamu beliau, maka kami diizinkan lewat tanpa membayar.

Akhirnya, kami sampai di penginapan pukul 21.30 WIB. Aku langsung menyiapkan baju dan perlengkapan yang akan dipakai besok dan membuat janji dengan pemilik Jeep untuk dijemput pukul 04.00 WIB.

Hari ke-2: 30 Mei 2025

Keesokannya, kami dijemput tepat waktu sesuai request jam 04.00 WIB, bahkan Bapak driver sekaligus pemandu kami sudah standby sejak jam 2 pagi di depan penginapan! Beliau bilang lebih awal lebih baik karena pengunjung lain sudah mulai berangkat menuju titik sunrise sejak pukul 01.00 dini hari dan jalanan sudah mulai macet.

Untuk melihat sunrise di Bromo yang aku tahu ada 4 titik observasi (cailahh): Penanjakan 1 dan 2, Seruni Point, dan Bukit Mentigen. Penanjakan 1 dan 2 adalah titik paling tinggi dan jaraknya cukup berdekatan, untuk sampai di titik ini harus berangkat lebih pagi. Karena ini adalah titik favorit, biasanya orang-orang memilih titik ini, sehingga jalurnya macet dan ramai orang.

Kami sangat lelah dari perjalanan sebelumnya, jadi kami memilih tidur lebih lama dan berangkat lebih siang, sehingga kami memilih Bukit Mentigen untuk melihat sunrise. Meskipun mungkin pemandangannya tidak sedramatis dari Penanjakan, tapi kami tetap bisa menikmati sunrise dan pemandangan Bromo yang masih tertutup kabut bagai negeri di atas awan. Bahkan kami sempat menikmati langit sepertiga malam yang pekat dan melihat galaksi Bima Sakti dengan jelas. MasyaAllah (✿◡‿◡).

sunrise Bromo - lycka.id
Foto matahari terbit yang diambil dari Bukit Mentigen (dok. pribadi)

Destinasi selanjutnya adalah Lembah Watangan atau biasa dikenal dengan Bukit Teletubbies karena bukitnya ditutupi hamparan rumput hijau. Ketika sampai, masih cukup sepi karena tidak butuh waktu lama dari Bukit Mentigen ke sini, dan itinerary kami kebalikan dari itinerary turis lain pada umumnya yang melihat sunrise dari Penanjakan.

Itinerary kami adalah sebagai berikut:

Bukit Mentigen — Lembah Watangan — Pasir Berbisik — Kawah Bromo — Bukit Widodaren

Sementara, itinerary dari Penanjakan, menurut pemandu kami, adalah sebagai berikut:

Penanjakan —Bukit Widodaren — Kawah Bromo — Pasir Berbisik — Lembah Watangan

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Lembah Watangan, kalau tidak dibatasi waktu rasanya ingin menjelajahi tiap bukit dan berusaha menembus kabut yang masih menyelimuti. Di sini masih terasa dingin, tapi cukup tolerable, mungkin karena kami banyak bergerak dan sinar matahari mulai menyentuh kulit.

lembah watangan bromo - lycka.id
Foto di Lembah Watangan. Langit sudah terang tapi masih diselimuti kabut (dok. pribadi)

Selanjutnya kami berfoto di area Lautan Pasir, di sana banyak yang menawarkan untuk menyewa kuda, akhirnya kami menyewa tapi bukan untuk berkeliling, tapi untuk berfoto. Rupanya, Bapaknya cukup ahli mengarahkan gaya dan mengambil foto. Pak Alam juga sempat minta diajari berkuda, dan berkeliling sedikit. Dengan membayar 50 ribu rupiah, kita bisa berfoto sambil berkuda tipis-tipis. Lumayaan (~ ̄▽ ̄)~

kawah bromo - lycka.id
Perjalanan menuju Kawah Bromo, jaraknya cukup jauh dan berpasir (dok. pribadi)

Berikutnya kami pergi ke Kawah Bromo, jaraknya sekitar 1km dan harus menaiki tangga curam. Banyak yang menawarkan sewa kuda, kalau tidak salah tarifnya 200 ribu, bolak-balik. Tidak bisa ditawar karena harga yang disepakati memang segitu.

Karena Aiza sudah kelelahan, yang melihat kawah hanya Ayah. Kata Ayah, tidak terlalu menarik, lebih indah Kawah Putih. Tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan karena harus mengantre menaiki tangga curam. Ditambah lagi cuacanya sudah mulai terik dan kering. Jadi aku dan Aiza berjalan kaki hanya sampai bawah tangga menuju kawah. Aiza kembali ke area parkir dengan kuda, sementara aku dan Ayahnya jalan mengikuti dari belakang.

Aku tertinggal cukup jauh karena lebih susah menuruni gunung berpasir, sementara Ayahnya bisa gesit mengikuti Aiza dari belakang. Mungkin karena khawatir juga. Untungnya Aiza pakai baju dengan warna mencolok sehingga selalu dalam pengawasan.

Destinasi terakhir adalah Bukit Widodaren. Bukit ini unik karena bentuknya seperti kertas yang dilipat-lipat dengan rapi. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini; berfoto, duduk melamun, berlarian, dan menikmati perasaan dikelilingi pegunungan untuk terakhir kali sebelum kembali ke hotel.   o(TヘTo)

road trip Bromo lycka.id
Foto Gunung Batok yang ada dalam kisah legenda masyarakat Tengger (dok. pribadi)
bukit widodaren lycka.id
Duduk bersantai sambil memandangi Gunung Batok dan Bukit Widodaren (dok. pribadi)

Kami sangat senang pemandu kami berinisiatif untuk mengambil yang berbeda dari turis pada umumnya karena kami merasa tidak terlalu berdesakan, dan cuaca sangat ideal kecuali saat di area Kawah Bromo yang cukup antre karena memang jalurnya hanya berupa tangga.

Oh iya, untuk makan dan minum, tidak perlu khawatir karena di kawasan Bromo banyak penjual makanan; ada warung nasi prasmanan, soto, bakso, dll. Jadi tidak perlu pusing memikirkan perbekalan makanan kecuali camilan untuk mengganjal perut saat menikmati sunrise.

Wisata Bromo ini menurutku, cukup ramah anak dan lansia karena bisa menyesuaikan kemampuan masing-masing, kemana-mana diantar dengan Jeep, dan banyak opsi kendaraan seperti kuda dan ojek. Asalkan sudah memastikan kondisi fit dan prima, makan yang cukup, memakai pakaian hangat, insyaAllah aman.

Untuk tiket masuk, sebenarnya di laman resmi TNBTS, kita diarahkan untuk membeli secara online, tapi rincian harga tiketnya kurang jelas, dan terlihat kurang meyakinkan, dan ternyata sudah common practice untuk membeli tiket masuk melalui penyewa Jeep, jadi itulah yang kami lakukan kami membayar sewa Jeep sekaligus tiket masuk untuk 2 orang dewasa.

Pukul 11.00 WIB kami kembali ke hotel untuk mandi, Pak Alam tidur sebentar sambil menunggu Ibu dan Aiza selesai siap-siap dan berbenah. Pukul 12.30 WIB kami check-out dari penginapan dan berangkat menuju Baluran.

Estimasi Biaya Tol, Akomodasi, dan Tiket Objek Wisata

Biaya Tol

  • Perjalanan Jakarta – Bromo via Probolinggo transit Cirebon: Rp 963.500
  • Perjalanan Bromo – Baluran: Rp 26.000
  • Perjalanan Baluran – Lamongan: Rp 163.500
  • Perjalanan Lamongan – Jakarta: Rp 827.000

Total: Rp 1.980.000

Bensin

Selama perjalanan kami mengisi bensin jenis Pertamax kurang lebih sebanyak 6x dengan estimasi biaya Rp 2.000.000 – Rp 2.500.000.

Di beberapa pom bensin Pertamina, terutama di sekitar Bromo, tidak menerima pembayaran dengan QRIS atau pun debit, jadi sebaiknya menginstal aplikasi MyPertamina agar tidak harus sedia uang tunai setiap saat untuk mengisi bensin.

Akomodasi

  • Bromo Otix Guest House: Rp 250.000 per malam
  • Reta Guest House, Baluran: Rp 450.000/malam (deluxe). Rp 400.000/malam (standard)

Total Biaya Akomodasi: Rp 1.100.000

Tiket dan Biaya di Tiap Objek Wisata

  • Biaya Sewa Jeep dan Tiket Masuk Bromo (2 orang dewasa): Rp 878.000
  • Tiket Masuk Gua Sunyaragi Cirebon : Rp 15.000 (dewasa); Rp 10.000 (anak/pelajar)
  • TIket Masuk Baluran: Rp 73.000 (tiket masuk 3 orang dan 1 mobil)
  • Tiket Masuk Bangsring Underwater : Rp 5.000 per orang
  • Biaya Snorkeling di Pulau Tabuhan dan Rumah Apung: Rp 900.000 (termasuk sewa alat, kapal, guide, dan underwater photo)

Total Biaya Wisata: Rp 1.906.000

Tips Wisata Bromo

  • Bawa baju hangat, tidak harus winter jacket, yang penting cukup hangat, bawa sarung tangan, syal, topi untuk anak
  • Bawa masker karena menjelang siang sangat panas dan berdebu
  • Sewa jeep sebelum sampai di Bromo biar bisa nego harga dan tanya-tanya seputar itinerary juga harga tiket masuk.
  • Pertimbangkan penginapan yang tidak terlalu dekat dengan pintu gerbang agar tidak terlalu berisik dan mudah dijangkau saat sudah berkendara jauh.
  • Istirahat yang cukup sebelum mulai sunrise trip karena banyak objek wisata yang akan dijelajahi setelahnya.

Penutup

Bagaimana? Tertarik untuk segera mencoba road trip ke Bromo? Boleh loh, berbagi pengalaman .kalian di kolom komentar juga. Mungkin ada tips tambahan yang belum aku cantumkan hehe.

Anyway, bagian ini fokus pada cerita dan tips berlibur di Bromo. Cerita perjalanan dan kegiatan yang kami lakukan selama di Baluran ada di tulisan bagian 2 ya! Stay tuned!

 

 

5 thoughts on “Road Trip Jakarta ke Bromo dan Baluran: Itinerary Lengkap dan Tips Keluarga (1)

  1. maaf izin mau tnya punya contact untuk menanyakan sewa jeep nya ga ya
    krn saya berencana kesana bulan september
    mau sy contact dr sekarang mungkin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.