Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini cukup menantang dan bikin merenung, temanya adalah teknologi. Dalam semangat bulan Agustus, tema teknologi ini harus dibahas dalam perspektif memerdekakan atau menjajah. Hmmmm…
Merasa dijajah atau malah dimerdekakan oleh teknologi?
Jujur kalau ditanya begitu aku masih merasa dijajah teknologi sih. Sedikit curhat, aku merasa sudah kecanduan dengan gawai, meskipun belum di tahap chronically online, aku bisa menghabiskan banyak waktu membuat konten story atau scroll bahkan doom scrolling di Instagram . Juga merasa agak kesal kalau WiFi di rumah ada gangguan atau lambat. Duh. ≡(▔﹏▔)≡
Apalagi kalau disuruh digital detox kayanya aku enggak akan sanggup deh. Pernah sih coba uninstall dan deaktivasi Instagram. Tapi hanya bertahan 1 bulan, maksimal 2 bulan. Hahahaduh. Itu pun terbantu dengan distraksi lain, yaitu menonton serial Netflix, meskipun frekuensi membaca buku juga meningkat, tapi tetap saja enggak bisa sepenuhnya lepas dari distraksi teknologi.
Bahkan kalau sedang berlibur di tempat yang jauh dari pusat kota, aku selalu mendambakan tinggal di tempat tersebut; sepi, asri, jauh dari hiruk pikuk kota besar, enggan untuk pulang. Tetapi, ketika dihantui pikiran sulit mendapat akses internet cepat, fasilitas, dan teknologi yang memudahkan hidup, aku ragu dan menghapus keinginan itu. Nanti saja ah, kalau sudah usia pensiun, begitu pikirku.
Banyak juga sih teknologi yang memerdekakan
Meskipun aku masih terjajah teknologi, tetapi tidak bisa dipungkiri juga kalau teknologi memang membuat banyak hal jadi lebih mudah dan murah, jadi yaah bisa dibilang memerdekakan.
Kalau dibuat daftarnya mungkin ada banyak ya. Pasalnya, sekarang kita hidup di era yang serba mudah dibandingkan dengan zaman kita kecil dulu, atau zaman orang tua kita dulu. Benar-benar sudah masuk era globalisasi yang sering jadi bahan kajian pelajaran IPS zaman SMA hahaha. Wireless and borderless.
Jika harus memilih teknologi apa yang berjasa memerdekakan dan membuat hidup lebih mudah, aku punya 5 teknologi pilihan yang ingin aku ulas dalam tulisan ini.
5 Teknologi Memerdekakan versi Laksita
1. Bank Digital: Bank Jago Syariah
Hal yang membuatku tertarik menggunakan bank digital adalah karena kemudahan pembayaran transaksi online dan internasional tanpa menggunakan kartu kredit. Jadi, aku bisa bayar tagihan berlangganan aplikasi, hotel, pesawat, bahkan tiket pertunjukkan di luar negeri tanpa kartu kredit. Ini sungguh memerdekakan, karena membuat dan memiliki kartu kredit itu buatku bukan perkara sederhana dan bertentangan dengan nilai yang aku anut.
Dulu, ketika menabung di bank konvensional biasa, kartu debit yang dimiliki hanya bisa digunakan untuk transaksi offline saja, bahkan terkadang terkena charge di merchant tertentu hikshiks.
Saat ini aku jadi nasabah Bank Jago. Meski bukan pelopor bank digital, aku memilih bank ini karena berbeda dengan bank digital lain, Bank Jago punya produk Jago Syariah yang menggunakan sistem bagi hasil, bukan sistem bunga.

Dari segi fitur dan pelayanan, seperti layaknya bank digital lain, semua transaksi dilakukan melalui aplikasi, tidak ada buku tabungan, dan bank statement pun bisa diakses dari aplikasi.
Fitur yang aku sukai adalah adanya 2 jenis rekening virtual: saving account dan spending account. Saving account berfungsi menyimpan uang saja, tidak bisa melakukan transaksi selain menerima uang. Sedangkan spending account adalah rekening yang bisa bertransaksi seperti biasa. Sehingga kita bisa memisahkan rekening untuk tabungan dan pengeluaran.
Fitur lain yang jadi favoritku adalah fitur pocket atau kantong seperti metode Kakeibo. Jadi bisa atur pengeluaran dan tabungan sesuai pos yang sudah ditentukan. Aku belum tahu sih berapa maksimal jumlah kantong yang bisa dibuat, tetapi sejauh ini pos yang aku tentukan bisa diakomodasi oleh aplikasi Bank Jago.
Di bawah ini adalah tangkapan layar dari aplikasi Bank Jago Syariah yang aku gunakan. Bisa dilihat bahwa Bank Jago juga sudah bekerja sama dengan GoPay dan aplikasi Bibit untuk memudahkan top-up e-wallet dan juga investasi dalam bentuk reksa dana.

Wow, aku promosi seolah dibayar haha. Tapi ini bukan endorse yaa, ini murni testimoni dari nasabah yang puas.
Sejak ada bank digital ini aku merasa bank konvensional lain, meskipun tidak memiliki versi digital, mulai meng-upgrade aplikasi mobile banking mereka jadi lebih mutakhir dan memudahkan nasabah, tentu saja ini juga didukung dengan pesatnya teknologi ponsel yang ada di pasaran.
Satu lagi, keunggulan dari Bank Jago adalah dia sudah terintegrasi dengan aplikasi Gojek, karena berada di ekosistem yang sama. Sehingga transaksi di aplikasi Gojek bisa dibayar dengan kantong Jago yang kita pilih, kalau mau isi ulang GoPay, serperti yang sudah aku sebutkan di atas, bisa dilakukan melalui aplikasi Bank Jago tanpa biaya admin.
Saat ini, Bank Jago juga punya kuota gratis transfer antar bank sebanyak 10x per bulan yang bisa di-upgrade jadi 20x dengan membayar lima ribu rupiah saja. Sungguh ekonomis dan memudahkan buat ibu yang ditugaskan membayar segala macam tagihan juga biaya kursus anak ke berbagai rekening bank.
2. QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard)
Masih tentang teknologi perbankan, QRIS ini adalah teknologi di Indonesia yang paling aku suka dan banggakan. Meskipun di luar negeri sudah ada juga ya sistem pembayaran contactless semacam membayar e-toll, tapi QRIS ini terasa lebih aman dan mindful karena harus diautentikasi di setiap transaksi, dan karena tidak membutuhkan mesin atau alat yang rumit, penetrasinya pun lebih baik, bisa menjangkau berbagai kalangan dan skala bisnis termasuk UMKM.
Aku yang tidak terlalu suka membawa uang tunai ini semakin dimanjakan karena jajan di pinggir jalan pun sekarang bisa bayar non-tunai. Senangnyaa~

3. Marketplace
Marketplace atau lokapasar ini bisa dibilang teknologi yang sangat disruptif ya. Ia bisa mengubah pola konsumsi dan transaksi konsumen, termasuk aku. Menurutku, ini karena lokapasar berhasil menjawab tantangan yang dihadapi saat berbelanja orang-orang seperti aku, yaitu enggak suka direcoki pramuniaga saat belanja, suka berkeliling membandingkan harga ke toko lain tapi enggak punya banyak waktu, butuh saran dari orang lain ketika berbelanja.
Bahkan, saat ini sudah ada fitur live shopping dan bisa berinteraksi dengan pedagang, jadi buat orang-orang yang suka bertanya ke pramuniaga saat berbelanja pun bisa diakomodasi. Fitur ini juga memudahkan untuk menentukan ukuran yang harus dipilih, atau bagaimana bentuk asli barang yang ingin dibeli, tanpa harus beranjak dari rumah.

Meski di awal kemunculannya sempat menimbulkan kontroversi dan dianggap merugikan pedagang konvensional, sepertinya saat ini mulai banyak pedagang yang merangkul lokapasar sebagai peluang baru. Fitur live shopping dan sistem afiliasi dan komisi juga memberikan peluang penghasilan baru bagi berbagai kalangan asalkan bisa mengakses internet.
4. Cloud Computing and Storage

Aku adalah salah satu pengguna jasa “cloud” yang disediakan oleh Google; Photos, Drive, Slides, Docs, Form, you name it. Hampir semuanya aku gunakan dan jujur masih susah untuk beralih ke penyedia jasa lain padahal Google ini terafiliasi dengan genosida di Palestina. ( ̄﹏ ̄;)
Mungkin karena paling banyak penggunanya dan sangat mudah digunakan. Selain itu, transaksi layanannya juga sangat mudah, tidak perlu lagi memiliki kartu kredit. Dengan satu alamat surel saja bisa menikmati berbagai fiturnya.
Teknologi yang paling berjasa buatku tentu saja cloud storage-nya atau Google Drive. Semua file penting bisa di-backup tanpa harddisk fisik yang rentan kerusakan. Semua file bisa diakses dimana saja dan kapan saja selama ada jaringan internet. Mudah pula dibagikan ke siapa pun yang membutuhkan.
5. Platform Belajar Online
Platform belajar daring sudah bukan hal yang asing buatku. Sejak masih kuliah S1, beberapa dosen ada yang getol menggunakan platform blended learning ITB untuk memberikan dan mengunggah tugas juga materi pembelajaran. Bahkan kuis pun dilakukan melalui platform tersebut. Selama jadi asisten dosen, aku jadi semakin akrab dengan platform ini karena harus menginput soal, tugas, dan mengolah nilai mahasiswa di platform blended learning ITB.
Selepas kuliah S1, aku juga mulai berkenalan dengan platform belajar daring yang lain seperti FutureLearn dan Coursera. Tetapi tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa Aiza, akan bersekolah dibantu dengan platform serupa, untuk pendidikan sekolah dasar.
Mengenai cara belajar dan kegiatan Aiza selama bersekolah daring, tentu harus dibahas dalam satu artikel khusus ya karena terlalu banyak yang ingin aku ceritakan. Tetapi intinya dengan belajar menggunakan platform daring yang biasa disebut Learning Management System (LMS), Aiza jadi lebih leluasa memilih kegiatan ekstrakurikuler dan menyesuaikan waktu belajar serta ritme belajar sesuai kebutuhan juga minat dan bakatnya.
Teknologi ini memerdekakan aku dan Aiza untuk belajar kapan pun dan dimana pun.

Mana yang sudah pernah dicoba?
Bagaimana dengan mamah-mamah semua? Adakah di antara 5 teknologi itu yang sudah Mamah-mamah manfaatkan? Atau malah dirasa menjajah? Apa ada teknologi yang jadi andalan Mamah-mamah dalam menjalani peran sehari-hari? Bagikan di kolom komentar ya!


Menarik ya teh bank jago syariah..
Teknologi yang cukup aktif saya pakai marketplace oren. Harus selektif soalnya sekarang banyak barang kw dan banjir barang murah-lucu tapi cepet rusak.
iyaa Teh, aku udah beberapa tahun pake masih betah sama fiturnya. samaaa aku juga masih susah lebih dari marketplace oren padahal biaya admin lebih besar, terlanjur terbiasa.
Iya. Google itu kepake banget. Bahkan sejak pandemi covid, aku gunakan g-sheet untuk catatan keuangan rumah tangga. Biasanya aku catat di buku tebal yang akan habis smpai 2 tahunan.
masyaAllah keren banget Teh. aku pernah liat juga orang nyatet pengeluaran pake gform, versatile bgt emang huhu