Tika, Green Jobs, dan Ikigai

Tika bulak-balik merapikan rambut ikalnya yang sebenarnya sudah ia pastikan “sempurna”. Berkali-kali juga ia merapal do’a meminta kelancaran namun tautan video conference tersebut masih ia belum tekan. Jantung Tika berdegup terlalu kencang untuk sebuah wawancara pekerjaan secara virtual yang dijadwalkan hari ini, 18 Januari 2021. Namun, semua gugup dan resah ini memang linear dengan besar keinginan Tika untuk mendapatkan pekerjaan impiannya.

5 Januari 2021

Tika menutup Zoom meeting internal malam itu dengan senyum yang dipaksakan. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan ia sudah membayangkan harus melakukan rutinitas yang sama esok tepat di jam tujuh pagi. Ia tahu, di tengah pandemi seperti ini, memiliki pekerjaan yang dibayar penuh adalah suatu hal yang pantas untuk selalu disyukuri. Namun, hatinya akhir-akhir ini sering bertanya, apakah jalan karir ini memang untuknya.

Sebenarnya sudah sejak sebulan lalu, Tika merasa kantornya saat ini tidak mengakomodasi imajinya mengenai bagaimana seharusnya ia bekerja. Ditambah lagi, saat ini ia sedang gemar-gemarnya melahap buku dan podcast mengenai Ikigai yang membuat ia semakin yakin untuk pindah.

Ikigai sendiri adalah konsep nilai hidup dari Jepang yang sepertinya sedang digandrungi oleh banyak anak muda karena cocoknya nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka, khususnya karir.

Konsep Ikigai. Sumber: quipper.com

Tika merasa pekerjaannya saat ini hanya memenuhi “What you are GOOD AT” dan “What you can be PAID FOR”, sehingga pekerjaannya hanya masuk di lingkup “Profession”. Sesaat setelah menutup jam kerjanya hari ini, ia langsung menuju balkon untuk menghabiskan waktu menatap kosong langit jingga untuk menyelam mencari pekerjaan apa yang ia inginkan. Namun bukan warna sekunder dari campuran merah dan kuning itu yang muncul di benaknya, tetapi hijau lah yang ia yakini cocok dengan nilai Ikigai miliknya.

Hanya butuh waktu sepuluh menit mengakses Google dan beberapa situs lain untuk Tika mengetahui kalau pekerjaan impiannya memiliki istilah tersendiri, Green Jobs. Dari berbagai situs yang ia baca, Green Jobs dapat disimpulkan sebagai pekerjaan yang memproduksi barang atau jasa yang berdampak baik bagi lingkungan dan menggunakan sumber daya alam dengan seefektif mungkin. Green Jobs mencakup berbagai pekerjaan di bidang agrikultur, energi, lingkungan sampai makanan.

Contoh Green Jobs. Sumber : coaction.id

Tika melanjutkan kegiatan berselancarnya di dunia maya terkait Green Jobs, ia menemukan fakta-fakta menarik lainnya, mulai dari bagaimana sektor ini bisa dapat menjadi kunci kebangkitan ekonomi pasca pandemi sampai lebih dari satu juta pekerjaan baru dapat terbuka di Indonesia bila Green Jobs benar-benar didukung oleh regulasi dan implementasi yang tepat.

Ia sejenak mengambil rehat dan melamun. Sejak duduk di bangku SMA dulu, ia sudah jatuh cinta dengan energi terbarukan. Memproduksi listrik namun tidak mengeluarkan polusi yang ia biasa hirup di kota merupakan konsep yang keren. Itu adalah alasan utama ia masuk ke jurusan Teknik Kimia beberapa tahun lalu karena ia mendengar jurusan ini memfasilitasi lulusannya bekerja di bidang tersebut. Namun seiring waktu, ia merasa harus secepat mungkin bekerja setelah lulus. Sehingga saat ini, ia “terperangkap” di pekerjaannya karena sesimpel perusahaan tersebut meminang Tika dua minggu setelah ia memakai toga.

Ia juga mengingat kembali kegiatannya selama di kampus dan sekolah, semuanya berbau energi dan lingkungan. Entah menjadi relawan di kegiatan tanam mangrove, mengedukasi anak-anak mengenai perubahan iklim, sampai kerja prakteknya di perusahaan sel surya. Ia memantapkan hatinya, memang ini sudah jalannya. Ia pun mulai habiskan malam untuk memasukkan CV ke beberapa perusahaan yang ia rasa dapat mengakomodir Ikigai miliknya.

18 Januari 2021

“Selamat malam, mbak Sartika Permatasari. Terima kasih sebelumnya sudah mau melamar ke perusahaan kami. Kita bisa mulai ya proses wawancaranya. Biasa dipanggilnya apa mbak?”

“Ti..Tika aja Pak. Terima ka..kasih sudah meloloskan saya sampai tahap ini.”

10 menit, 20 menit, satu jam berlalu tanpa terasa. Ternyata ketegangan Tika hanya hinggap di lima menit pertama. Setelahnya cair layaknya menaruh batu es di dalam microwave. Ia lalu dengan mudah menjelaskan konsep Ikigai dan Green Jobs yang ia lamar dengan menunjukkan diagram dan infografis yang ia siapkan.

Klise memang, tapi ia rasa self-fulfillment yang ia akan dapatkan dari memberi dampak positif bagi lingkungan Indonesia adalah “What the world NEEDS” miliknya. Ia menjelaskan statistik untuk environmental jobs di Kanada yang menyebutkan bahwa sekitar 87% pekerja di bidang lingkungan mengatakan niat untuk membuat lingkungan lebih baik adalah alasan utama mereka memilih karir di bidang ini.

Besarnya pengaruh ingin membuat perubahan dalam penentuan karir anak muda di Kanada. Sumber : TalentEgg Inc.

Sementara untuk “What you can be PAID FOR”, ia juga menjelaskan Green Jobs yang ia lamar saat ini adalah sektor dimana banyak orang pilih karena kejelasan masa depan dan besaran jumlah pendapatan yang kompetitif. Dapat terlihat dari potongan infografis dari FastCompany.com bahwa pendapatan di sektor ini sekitar 15% lebih tinggi dari rata-rata pendapatan nasional di Amerika Serikat.

Rata-rata perbedaan penghasilan di Amerika Serikat antara Green Jobs dan sektor keseluruhan. Sumber : Fastcompany.com

Pada bagian “What you LOVE”, dan “What you are GOOD AT” dengan mudah ia paparkan dengan menjelaskan latar belakang pendidikan dan kegiatan yang ia lakukan dari dulu hingga kini. Tanpa ragu ia berkata bahwa tidak hanya dirinya yang memiliki kedua irisan ini, pasti banyak juga anak muda lainnya yang ingin berubah menuju pekerjaan yang lebih bermakna namun sedang menunggu momentum yang tepat. Tidak perlu harus jurusan Teknik Kimia, masih banyak bidang keilmuan lain bahkan yang tidak relevan pun dapat tetap berkontribusi di sektor Green Jobs bila memiliki niat dan visi yang kuat akan Indonesia yang lebih bersih.

Pewawancara sempat berkata kalau ini cara yang tidak lazim dalam menjelaskan mengapa pelamar ingin bekerja di perusahaannya, namun dilihat dari respon mereka, Tika cukup percaya diri dengan apa yang dilakukannya.

15 Februari 2021

Ini adalah Senin kedua sejak Tika bekerja di kantornya yang baru. Ia sangat ngeh betul bahwa tantangannya kadang lebih berat, pekerjaannya kadang menyita waktu lebih lama dan banyak hal baru yang ia harus pelajari. Akan tetapi, sudah lebih dari sepuluh teman dekat dan lima adik kelasnya yang masih berkuliah ia bujuk untuk memilih karir di dalam lingkup Green Jobs.

Karena menurutnya, Indonesia dan bumi tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk memiliki masa depan yang lebih baik. 🙂

3 thoughts on “Tika, Green Jobs, dan Ikigai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s