Badai Amarah dan Penyesalan Ibu

Empat hari yang lalu Aiza menangis meraung-raung memanggil Ayahnya yang sedang bekerja di lantai 2 karena dimarahi Ibu. Pasalnya, dia memukul sepupunya yang berumur satu tahun karena berebut mainan.

Hari itu adalah ketiga kalinya dia menyakiti saudara sepupunya, Arion. Awalnya dia hampir mendorong Arion di teras rumah, untung sempat dicegah, kalau tidak Arion bisa terluka terkena bebatuan di teras. Kali kedua dia menyenggol tubuh Arion hingga terjatuh dan menangis, entah apa sebabnya. Aiza memang anak yang cukup sensitif, jika satu kali dibuat sangat kesal oleh anak yang lebih muda atau seusianya, dia bisa kesal dan sensi pada anak tersebut sepanjang hari.

Saya mengerti bahwa saya harus menerima perasaannya. Apalagi di usianya saat ini, egonya sangat tinggi. Saya paham bahwa perasaan kesal atau perasaan tersainginnya sangat valid dan bisa saya terima, namun sikap reaktif dan ringan tangannya ini tidak bisa diterima.

Saya sudah mencoba berbagai teknik, mulai dari berbicara baik-baik sambil mengakui perasaan, hingga berbicara agak keras dan menunjukkan rasa sangat tidak suka saat ia bertindak demikian. Namun tetap saja dia begitu.

Baru saja saya curhat pada Ayahnya Aiza soal kecenderungan ringan tangan Aiza. Khawatir kebiasaan tersebut terbawa hingga besar, khawatir ketika sudah besar Aiza jadi pelaku perundungan. Naudzubillah. Di hari yang sama, kejadian Aiza ‘mengancam’ Arion terulang sampai 3x. Muncul lah monster mum yang dilanda badai amarah.

Saya berbicara keras dan melotot hingga menepuk punggung Aiza dengan jari saya agak keras. Sontak dia menangis dan langsung berteriak “Ayaaaaah!” Saya yang masih diselimuti badai amarah lanjut berkata, “Sana cari Ayah sendiri!” Aiza pun berlari sambil meraung dan berlinang air mata.

Kirana–kakaknya Arion–menceritakan kejadiannya pada Ayah Aiza. Sambil berusaha menenangkan, Aiza dibawa kembali menemui saya sambil masih berlinang air mata. Seketika itu saya merasa sedih dan menyesali kemarahan saya. Aiza terus berkata, “Ibu maraah” dan menolak untuk saya gendong. Namun, setelah saya minta maaf, tak lama kemudian Aiza mau saya gendong dan susui hingga tertidur. Sambil menyusui pun dia masih menangis sesenggukan.

Hati saya hancur dan sedih. Aaahh, kenapa sih, lagi-lagi tidak bisa menahan emosi. Padahal dari pengalaman sebelumnya saya tahu saya akan sangat sedih setelah memarahi Aiza. Saya terus menciuminya saat dia tertidur sambil meminta maaf.

Gimana sih si Ibu, dirinya sendiri masih belum bisa mengatur emosi tapi megharapkan Aiza yang masih 2 tahun untuk bisa mengendalikan emosi dan perbuatannya. Apalah bedanya Ibu dengan anak 2 tahun. Hal ini terus berkecamuk dalam pikiran saya. Mengapa rasa cemas dan khawatir seringkali bermanifestasi jadi badai amarah?

Seharusnya saya lebih sabar karena Aiza masih berproses dalam mengelola dan mengekspresikan perasaannya. Harusnya saya tidak hanya fokus pada kekurangan Aiza yang hanya terjadi sesekali dan tidak bersyukur atas tingkah laku manisnya setiap hari. Seharusnya saya sadar anak adalah cerminan orang tua, jika Aiza bertindak tidak sesuai, yang harus banyak evaluasi adalah Ayah dan Ibu.

Anger and storm are like each other. You will know the disaster made when it cools down.

Unknown

Kutipan tersebutnya rasanya sangat pas menggambarkan kejadian ini. Saat badai emosi berkecamuk, kita tidak ingat akibat dari amarah kita. Baru setelah semuanya terjadi timbul penyesalan. Saat terbangun dari tidurnya Aiza masih mengingat Ibu sedang marah, matanya masih berkaca-kaca sambil bilang “Ibu maraah..” saya segera minta maaf dan menciuminya.

Keesokan harinya pun ketika saya melihat bibit konflik Aiza dan Arion lalu memperingatkan Aiza, dia langsung berlari ke Ayahnya sambil berkata “Ibu marah”, meskipun saya menegurnya dengan lembut. Sedih rasanya. Semoga kejadian ini tidak melukainya terlalu dalam.

We never know what kind of scars we have inflicted to our children, especially when they’re very young. Because after the storm, they will still show us the same smiles, give the same warm hugs and lovely kisses. They only know how to love their parents unconditionally, they don’t know how to hate.

Alas, we’re also just human beings who reek of mistakes. So all we can do is try our best to be mindful in each and every interaction we do with our kids. After all, the best remedy for anger is delay, so theoretically, practicing mindfulness would help tackle anger management issues.

Cerita ini semoga menjadi pengingat bagi saya di masa depan untuk lebih sabar dalam menemani Aiza berproses dan kebaikan-kebaikan Aiza tidak luput dari perhatian serta apresiasi saya. Aamiin.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Badai

Pexels from Pixabay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s