Menghadapi, Menerima dan Menjalani “Option B”

Tulisan ini dibuat sebagai resume sekaligus refleksi bagi saya setelah membaca buku “Option B: Facing Adversity, Building Resilience and Finding Joy” karya Sheryl Sandberg dan Adam Grant dalam rangka mengikat ilmu dengan tulisan hehe. Semoga bermanfaat juga untuk yang lain.

Penulis dari buku ini sudah sangat tenar dengan buku best seller sebelumnya, Lean In, selain karena posisinya sebagai COO Facebook. Sebenarnya saya sudah penasaran dengan buku Sheryl Sandberg sejak lama, karena lumayan banyak teman saya yang sudah membaca karya beliau dan karena bukunya bertema women empowerment. Tapi saya malah lebih tertarik untuk membaca buku “Option B: Facing Adversity, Building Resilience and Finding Joy” karena merasa hidup yang saya jalani sekarang bukan Option A saya. Ya, menjadi ibu sesaat setelah lulus S2 bukanlah Option A saya.

Buku ini ditulis setelah suami Sheryl meninggal secara tiba-tiba. Sheryl merasa terpukul dan awalnya merasa sulit untuk bangkit. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Sheryl akan menghabiskan sisa waktu tanpa suami. Sebagai seorang ibu, Sheryl juga membagikan kekhawatirannya saat harus membesarkan anak tanpa ayah, bagaimana perasaan anak-anaknya, bagaimana mereka akan melewati fase kehidupan tanpa ayah dsb.

Namun dari kekhawatiran dan pengalamannya ini Sheryl banyak berdiskusi dan mewawancarai orang-orang yang juga mengalami kekecewaan. Orang-orang yang Option A-nya pupus dan harus hidup dengan Option B.

Buku ini dinarasikan dari sudut pandang Sheryl, namun sebenarnya ditulis bersama Adam Grant. Buku ini terdiri dari 10 bab dan dilengkapi daftar panjang referensi hasil studi yang disebutkan dalam buku ini. Ini adalah salah satu alasan mengapa menurut saya buku ini bagus, karena argumennya didasarkan pada hasil penelitian. Buku ini juga mengangkat berbagai kisah sukses bangkit dari kekecewaan dan menghadapi kehilangan baik itu orang yang disayangi, kehilangan pekerjaan, kegagalan, perceraian maupun peristiwa buruk yang menyebabkan trauma.

Menurut saya, poin penting yang harus diingat dan menjadi kata kunci dalam buku ini adalah hasil studi Martin Seligman. Beliau menyebutkan, ada 3 hal yang dapat menghambat seseorang pulih dari keterpurukan, yaitu 3 P: (1) personalisation–percaya bahwa hal yang terjadi adalah karena kesalahan kita sendiri; (2) pervasiveness–percaya bahwa suatu kejadian dapat mempengaruhi segala aspek kehidupan; (3) permanence–percaya bahwa akibat dari suatu kejadian tidak akan pernah hilang selamanya.

Saya merasa tiap bab buku ini menjabarkan bagaimana 3 hal tersebut benar-benar berpengaruh dalam proses pemulihan Sheryl dan narasumber lainnya, serta bagaimana caranya mengatasi hal tersebut. Berikut ini saya tuliskan judul tiap bab dan poin penting yang ingin saya ingat, atau quotes yang mengena bagi saya. Semoga bisa jadi teaser dan bikin penasaran untuk baca langsung buku ini 😉


  1. Breathing Again
    Pemikiran seperti “It’s my fault this is awful. My whole life is awful. And it’s always going to be awful” adalah ilustrasi dari 3 P yang Martin Seligman sebutkan. Dalam bab ini dijelaskan dengan detail bagaimana 3P memengaruhi proses pemulihan Sheryl dan bagaimana ia mengatasinya satu per satu.

  2. Kicking the Elephant Out of the Room
    Hal yang menohok dari bab ini adalah, fakta bahwa seringkali kita menghindari topik sulit dengan tidak membahas kejadian tidak menyenangkan yang dialami seseorang, seolah hal itu tidak pernah terjadi. Ternyata, hal tersebut bukannya membantu malah membuat luka baru karena rasa sedih dan kejadian menyedihkan itu dianggap remeh dan tidak ada. Oleh karena itu, saat seseorang sedang berduka sebaiknya tanyakan hal yang berkaitan dengan duka orang tersebut; tanyakan bagaimana keadaannya, dengarkan ceritanya dan jangan malah mengalihkan topik. “Avoiding feelings isn’t the same as protecting feelings” jadi jangan ragu untuk memulai topik yang menyakitkan jika memang benar peduli soal perasaan orang tersebut.

  3. The Platinum Rule of Friendship
    Dalam bab ini Sheryl dan Adam menjelaskan lebih lanjut bagaimana kita bisa memberi dukungan pada seseorang yang sedang berduka dan bagaimana menerima dukungan dari orang lain. Platinum Rule dalam membantu seseorang yang menderita adalah: perlakukan mereka sebagaimana mereka ingin diperlakukan, perhatikan petunjuknya, karena seringkali mereka tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.

    Tawaran bantuan yang spesifik akan lebih baik daripada meminta mereka memikirkan sendiri bantuan yang dibutuhkan. Daripada mengatakan, “ada yang bisa aku bantu?” atau “aku ada di sini kalau kamu butuh apapun” coba katakan “aku siap dengerin semua keluhan kamu”, “telepon aja ya, kalau kamu butuh bantuan jagain anakmu” atau lebih baik lagi langsung berikan bantuan yang sekiranya dibutuhkan.

    Ketika kita sedang berduka, kita juga harus belajar menerima kebaikan dan perhatian orang lain, karena tidak jarang kita merasa tidak enak jika terus merepotkan orang lain dan merasa menjadi beban bagi mereka. “Friendship isn’t only what you can give, it’s what you’re able to receive.”

  4. Self-compassion and Self-confidence
    “Self-compassion comes from recognising that our imperfections are part of being human.”
    Salah satu cara untuk membangkitkan self-compassion setelah mengalami kegagalan adalah dengan mengakui kesalahan (own our mistake) dan menyesali perbuatan salah tersebut, bukan menyalahkan kepribadian kita.

    Menulis juga bisa menjadi salah satu cara untuk memupuk self-compassion dan self-confidence. Mengubah perasaan menjadi kata-kata membantu kita untuk memproses dan menghadapi trauma. Sebaiknya, saat menuliskan perasaan pun gunakan deskripsi yang spesifik. Daripada menuliskan “mood saya buruk” coba tuliskan “saya merasa kesepian, kecewa dan sedih.”

    Untuk menumbuhkan percaya diri, Sheryl menyarankan untuk menuliskan kontribusi apapun yang kita lakukan setiap hari daripada hanya menulis hal-hal yang kita syukuri seperti gratitude list. Karena gratitude list hanya mendokumentasikan hal-hal yang kita terima dan cenderung bersifat pasif, sedangkan menuliskan kontribusi mengingatkan bahwa kita berdaya. Hal ini juga dapat membantu mengalahkan pemikiran bahwa kejadian buruk itu memengaruhi seluruh aspek kehidupan (pervasiveness).

  5. Bouncing Forward
    When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves” – Viktor Frankl

    Setelah mengalami trauma, seseorang dapat mengalami 3 hal: mengalami kesulitan dan menghadapi depresi; menjadi tabah dan kembali seperti keadaan mereka semula; atau melompat maju dengan mencapai post-traumatic growth.

    “Post-traumatic growth could take five different forms: finding personal strength, gaining appreciation, forming deeper relationships, discovering more meaning in life, and seeing new possibilities.”

    I am more vulnerable than I thought, but much stronger than I ever imagined” adalah kalimat yang menggambarkan personal strength sebagai bentuk post-traumatic growth. Sesungguhnya dengan bertahan saja menandakan kita sudah semakin kuat.

    Dalam bab ini juga dijelaskan lebih rinci contoh-contoh post-traumatic growth yang lain.

    Di bab ini juga dijelaskan bagaimana keimanan bisa membantu seseorang menjadi lebih tabah dan menolak pemikiran permanence. Bahkan di saat tersulit pun, jika seseorang percaya pada kekuatan yang lebih besar darinya, seseorang tersebut tetap bisa berharap dan membantu meyakini cepat atau lambat badai akan berakhir.

  6. Taking Back Joy
    Setelah mengalami kehilangan, seringkali kita merasa bersalah jika melakukan hal-hal yang menyenangkan atau melakukan hal yang disukai. Seolah-olah kita tidak pantas untuk berbahagia. “A life chasing pleasure without meaning is an aimless existence. Yet a meaningful life without joy is a depressing one”. Oleh karena itu, sangat penting untuk ‘merebut’ dan menikmati kembali kebahagiaan.

    Jika sulit melakukannya untuk diri sendiri, cobalah untuk menjadikan orang yang kita sayangi sebagai motivasi. Seperti Sheryl yang mencoba untuk melakukan hal yang menyenangkan untuk dan bersama dengan anak-anaknya. Dan ketika kita berhasil membiarkan diri kita bahagia, artinya kita sudah berhasil menaklukkan pemikiran permanence.

    “Seeking joy after facing adversity is taking back what was stolen from you”

    Kebahagiaan bukan tentang momen besar saja, hal-hal kecil setiap hari pun bisa jadi sumber kebahagiaan. Daripada menunggu untuk bisa menikmati momen-momen kecil, buatlah daftar hal menyenangkan dan lakukan.

    Happiness requires work.

    Kegiatan lain yang dapat membantu menikmati hal-hal kecil adalah dengan menuliskan tiga momen kebahagiaan setiap hari. Hal ini membutuhkan usaha ekstra, karena otak manusia cenderung fokus pada hal negatif.

    Meskipun kita sedang menderita, kegembiraan bisa didapatkan dari momen-momen yang kita nikmati dan ciptakan. Momen-momen ini bukan hanya memberikan kebahagiaan tapi juga kekuatan.

    Joy allows us to go on living and loving and being there for others.

  7. Raising Resilient Kids
    Kita semua ingin membesarkan anak yang resilient sehingga mereka bisa menghadapi tantangan kecil maupun besar, lebih bahagia, lebih sukses dan lebih sehat. Resilience is a lifelong project, dan bisa dibentuk sejak dini.

    Membangun resilience (ketahanan) tergantung pada kesempatan dan hubungan anak dengan orang tua, guru dan pengasuhnya. Kita dapat membantu dengan menanamkan empat keyakinan inti (core beliefs):
    (1) mereka memiliki kendali atas hidup mereka artinya mereka adalah penentu nasib mereka sendiri dan mereka memandang kejadian buruk sebagai tantangan. Hal ini bisa dilakukan dengan menyampaikan ekspektasi yang jelas dan konsisten. Sehingga mereka melihat struktur dan predictability yang meningkatkan sense of control mereka.

    (2) mereka bisa belajar dari kegagalan dengan memupuk growth mindset pada anak dimana mereka melihat kemampuan sebagai sesuatu yang bisa diasah dan dipelajari, bukan sesuatu yang didapat sejak lahir. Cara kita memuji anak bisa jadi membentuk mindset anak terhadap kemampuan, oleh karena itu puji proses dan usaha yang dilakukan anak bukan hasil atau memberi pujian dengan kata sifat seperti pintar, hebat, dsb.

    (3) sebagai manusia, mereka sangat berarti; mengetahui bahwa orang lain memperhatikan, peduli dan mengandalkan mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk kelekatan aman dengan anak, mendengarkan anak dengan seksama, menunjukkan bahwa kita menghargai ide mereka dan membantu mereka membentuk kelekatan aman dan kuat dengan orang lain. For children, it often takes adults to show them that they matter.

    (4) mereka memiliki kekuatan yang bisa diandalkan dan dibagikan dengan cara membantu mereka mengidentifikasi dan mempraktekkan kekuatan karakter yang berbeda seperti keberanian, kreatifitas, kebaikan, rendah hati dan rasa syukur.

    Meminta bantuan juga menjadi inti dari membangun ketahanan. Ketika anak-anak merasa nyaman untuk meminta bantuan, mereka tahu bahwa mereka berarti. Mereka dapat melihat bahwa orang lain peduli dan mereka tidak sendiri. Mereka juga dapat memegang kendali dengan meminta dukungan. Mereka menyadari bahwa rasa sakit mereka tidak permanen dan keadaan dapat menjadi lebih baik.

    Orang tua juga harus dapat menjadi contoh dari resilience dengan tidak menyembunyikan emosi dan memberi contoh bagaimana mengatasi emosi tersebut.

  8. Finding Strength Together
    Ketahanan dapat dibangun dalam komunitas. Membangun ketahanan bersama orang yang mengalami trauma yang sama dapat membantu memberikan harapan dan perspektif yang lebih positif terhadap masa depan. Oleh karena itu, support group dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pemulihan.

  9. Failing and Learning At Work
    “When it’s safe to talk about mistakes, people are likely to report errors and less likely to make them.”

    “Accepting feedback is easier when you don’t take it personally. Being open to crticism means you get even more feedback, which makes you better. And the ability to listen to feedback is a sign of resilience.”

  10. To Love and Laugh Again
    Setelah kehilangan pasangan, biasanya seseorang akan dipenuhi rasa bersalah jika berpikir untuk memulai hubungan baru. Ada perasaan seperti mengkhianati. Tidak jarang pendapat miring orang lain juga menghentikan seseorang untuk memulai hubungan baru. Terutama bagi para wanita. Wanita cenderung dicap jelek jika move on terlalu cepat, sedangkan pria tidak. Padahal memulai hubungan baru seharusnya dipandang sebagai cara untuk menghilangkan kesedihan dan menemukan kegembiraan bagi orang yang kehilangan pasangan.

    “Humor can make us more resilient.”

    Tertawa membuat situasi yang membuat stress jadi tampak aman. Pasangan yang sering tertawa bersama akan lebih langgeng, dan orang yang dapat tertawa 6 bulan setelah kehilangan pasangannya, pulih dengan lebih baik. Jadi, mengubah tragedi menjadi komedi bisa jadi bagian dari proses pemulihan.

    Untuk membangun ketahanan dalam sebuah hubungan sangat penting untuk melakukan hal kecil bersama untuk menjaga dan merawat ikatannya. Untuk bertahan, pasangan juga harus bisa menghadapi konflik; masing-masing harus bertanggung jawab terhadap masalah mereka dan menemukan jalan untuk saling berkompromi. “They sent signals that even though they were fighting, at a deeper level, they were okay.”

    Untuk menemukan cinta dan mencintai seseorang, kita juga harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu. “The love we need to lead a fulfilling life cannot only come from others but must come from inside us as well.”

Demikian beberapa cuplikan dan kutipan isi buku “Option B: Facing Adversity, Building Resilience and Finding Joy”, agak acak-acakan dan kurang nyambung antar kalimatnya karena hanya menyomot bagian-bagian yang menurut saya patut diingat.

Buku ini tentu saja cocok dibaca bagi seseorang yang sedang dalam pemulihan dari trauma atau rasa kehilangan dan kegagalan. Namun buku ini juga sangat menarik bagi orang yang berminat pada topik psikologi positif atau yang sudah lelah dengan buku ala ala motivasi yang hanya berdasarkan pada argumen si penulis tanpa didukung data ilmiah atau informasi dari sumber lain.

Bagi saya, buku ini sangat membuka mata dan pikiran. Saya banyak belajar berbagai coping mechanism dan bahwa bagi tiap orang mekanismenya berbeda tapi ada benang merah yang bisa dipelajari dan ditiru. Setelah membaca buku ini, akhirnya saya menyadari hidup yang dijalani sekarang mungkin adalah option A yang diinginkan orang lain.

Apa yang saat ini saya jalani, bukan sepenuhnya kesalahan saya walaupun tentu saja ada kelalaian dalam perencanaan dan pengambilan keputusan saya. Bahkan sangat mungkin, ini adalah skenario terbaik. Terkadang masih ada rasa sesal dan mengandai-andai, bagaimana jika semua berjalan sesuai rencana. Namun, seperti yang Sheryl alami dan katakan, perasaan itu kini berubah dari “it’s my fault this is awful” menjadi “it’s not entirely my fault that this is awful“; dari “my whole life is awful” menjadi “not everything is awful“; dan dari pemikiran “it’s always going to be awful” menjadi “sometimes it is awful, but it is okay.”

7 thoughts on “Menghadapi, Menerima dan Menjalani “Option B”

  1. Huaah.. cuma mau bilang berasa baca tulisan psikologi, hehe. Aku uga baru tahu soal 3P itu, dibutuhkan banget di zaman seperti sekarang dimana kesehatan mental jadi isu banget.

    Terimakasih sharingnya Mbak Ita.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s