Kenangan di Perpustakaan

Sesungguhnya saya baru tahu kalau tanggal 14 September itu diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Sebenarnya saya juga bukan orang yang terlalu fanatik buku, saya juga merasa belum pantas disebut kutu buku. Kayanya saya lebih tepat disebut sebagai Tsundoku alias tukang numpuk buku tapi tidak pernah dibaca. Duh. Ini terjadi sejak saya mulai bisa menabung untuk membeli buku sendiri, sebelumnya saya biasa dibelikan buku oleh Mamah atau Paman saya, atau meminjam dari taman bacaan.

Saya mulai sering mengunjungi taman bacaan sejak SMP karena diajak oleh teman. Di sana saya menemukan dunia baru, bisa icip-icip banyak buku tanpa perlu memilikinya. Buku yang banyak saya pinjam pun biasanya berupa novel atau komik Jepang. Whoaa. Jadi ya, sebenarnya saya tidak ada pengalaman yang berbekas di perpustakaan seperti di film-film itu. Sampai sekarang pun saya belum pernah ke perpustakaan daerah atau Perpustakaan Nasional huhu.

Di taman bacaanlah segala memori berkaitan dengan buku pada masa SMP, SMA bahkan masa-masa kuliah tercipta. Hal ini sebenarnya disebabkan karena perpustakaan sekolah itu tidak menarik, buku-bukunya jadul dan berdebu, tidak terawat, tempatnya juga kurang nyaman; gelap dan lembab. Manalah bisa berasyik masyuk dengan buku kalau suasananya seperti itu.

Saat masa perkuliahan barulah ada kenangan berkesan dengan perpustakaan selain taman bacaan. Perpustakaan universitas sangat nyaman, lengkap, internetnya cepat dan sejuk. Koleksi bukunya sangat banyak dan stafnya juga sangat mumpuni. Semua buku tertata rapi, tiap lantai ada fasilitas toilet, musholla pun ada lebih dari satu. Pokoknya super nyaman. Tapi saya lebih banyak menghabiskan waktu di sana untuk mengerjakan tugas dengan laptop, meminjam buku teks kuliah atau menumpang mengunduh video klip Korea atau film animasi Jepang karena koneksi internetnya cepat. Kenangannya menjadi special karena saya ke perpustakaan selalu bersama teman-teman seperjuangan yang hingga saat ini masih bersahabat.

Begitupun dengan perpustakaan universitas ketika saya menempuh pendidikan pasca sarjana. I literally spend half of my life at the library. Bukan karena rajin tapi memang karena lebih nyaman dan kondusif daripada di apartemen. Apalagi di dalam perpustakaan ada kantin, tempat sholat, keran air minum, komputer dengan spesifikasi terbaru dan fasilitas untuk mencetak dan menjilid. Tapi lagi-lagi saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas atau menonton video Y*utube di perpustakaan saat jenuh. Saya jarang membaca buku-buku yang sesuai minat saya dari perpustakaan.

Kemudian setelah menikah dan punya anak saya menemukan kembali dunia baru. Perpustakaan anak-anak. Namanya Rimba Baca. It’s a magical place. Saya merasa ini tempat yang bisa membangkitkan kesenangan anak terhadap buku dan memupuk kenangan indah terkait buku. Di sana banyak sekali koleksi bukunya dan dikelompokkan sesuai usia. Buku-buku untuk orang dewasa pun ada. Makanya jika ingin bergantian me-time saya dan suami sering mengajak Aiza ke Rimba Baca. Di lantai satu Ayah menemani Aiza main atau membacakan buku, Ibu membaca buku kesukaan Ibu di lantai 2. Kemudian kami bergantian.

Ibu dan Aiza sedang membaca buku di Rimba Baca

Aiza bisa bermain sepuasnya di sana seharian, karena banyak pilihan buku juga mainan dan aktivitas yang bisa dilakukan. Ada boneka tangan, ada peralatan mewarnai, boneka lucu, kostum-kostum princess dan superhero atau Cuma sekedar berlarian di area membaca yang memang luas. Dan karena ini perpustakaan anak, setiap pengunjung memaklumi kalau anak-anak terlalu ekspresif saat bereksplorasi.

Ada biaya yang dikenakan di setiap kunjungan bagi orang tua dan anak, karena itu saya memilih menjadi member agar gratis setiap kali berkunjung dan bisa membawa pulang 5 buku setiap minggunya. Harga kenaggotaan per tahun bervariasi tergantung jumlah anak, namun sangat sepadan dengan fasilitas yang disediakan.

Saya senang bisa menemukan Rimba Baca dan bisa mengenalkan Aiza pada buku sejak masih kecil. Sehingga Alhamdulillah hingga saat ini Aiza menunjukkan minat yang cukup tinggi pada buku dan bisa duduk diam dibacakan buku. Semoga perpustakaan yang seperti Rimba Baca bisa tumbuh menjamur dan dapat dijangkau semua kalangan sehingga minat baca anak dan orang tua di Indonesia semakin meningkat dan perpustakaan jauh dari image membosankan.

#HariKunjungPerpustakaan

#TantanganRBM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s