Jalan-Jalan ke Kota Lumpia, Semarang

Sejak Aiza lahir, saya dan suami belum pernah traveling ke luar kota bersama kecuali Bandung. Kalau suami sih sering pergi ke luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Huh #sirik. Lalu di bulan Desember ada teman suami yang akan menikah di Jepara, dan bersedia menyewakan tempat menginap bagi yang mau hadir. Yippie! Akhirnya suami mengajak pergi ke Jepara lalu sambung ke Semarang untuk jalan-jalan.

Selama hampir 28 tahun hidup, saya belum pernah ke Jepara dan Semarang. Jadi waktu diajak pergi saya super excited sekaligus anxious karena sekarang perginya sambil bawa bayi. Aaaaak. Naik kereta sama bayi selama 8 jam lebih. Pengalaman naik kereta ke Bandung aja si bayi sibuk jalan mondar-mandir dan say hi sama semua penumpang, trus selama 3 jam perjalanan dia tidur cuma sekitar 30 menit, Ayah dan Ibu gempor hahaha. Tapi kalau takut dan mikirin ribetnya doang kapan jalan-jalannya?

Akhirnya kami membulatkan tekad untuk berangkat, alhamdulillah ada rejekinya, selain itu perginya juga rame-rame jadi bisa sewa mobil untuk perjalanan Semarang-Jepara-Semarang biar nyaman.

Transportasi dan Akomodasi

Berdasarkan pengalaman naik kereta yang disebutkan di atas, kami memutuskan memesan kereta yang berangkat malam, menyesuaikan dengan jam tidur Aiza. Kami menggunakan kereta Menoreh, berangkat hari Jumat dari Stasiun Jakarta Kota pukul 19.15 dan sampai di Stasiun Tawang pukul 02.30 WIB. Kami tidak terlalu ambil pusing soal pemilihan kursi, yang penting bukan di tengah yang berhadap-hadapan karena nanti jadi rikuh saat menyusui Aiza.

Dari Stasiun Tawang kami dijemput mobil rental jam 3 pagi menuju guest house di Jepara. Di Jepara kami hanya berjalan-jalan di sekitar guest house, ke venue akad dan resepsi, makan di restoran, istirahat di guest house, lalu menuju ke Semarang lagi. Kami menggunakan mobil Hi-Ace dari rental mobil rekomendasi tetangganya teman saya (thanks, Ai!).

Drivernya sangat baik dan helpful tapi tidak terlalu chatty yang mana merupakan suatu nilai plus buat saya hahaha. Ratenya juga bagus, walaupun jadi agak sedikit mahal karena kami mengontak langsung drivernya. Tapi sama sekali tidak merasa tertipu karena kami dijemput pukul 3 pagi, padahal di websitenya jam operasional mereka mulai pukul 6 pagi. Kontak resmi rentalnya bisa kalian temukan di sini. Kalau ingin berkorespondensi langsung dengan driver yang membantu saya, bisa tanya saya langsung ya hehe.

Untuk akomodasi, pada malam pertama di Semarang, karena masih bersama teman-teman yang lain kami menyewa rumah yang cukup besar dengan 3 kamar di suatu komplek kecil yang nyaman. Selanjutnya setelah teman-teman yang lain pulang ke Jakarta, kami menyewa sebuah kamar di apartemen Louis Kienne Pandanaran yang sangat dekat dengan Lawang Sewu. Kedua akomodasi ini kami sewa melalui website AirBnB dan dibayar menggunakan kartu debit Jenius, sangat praktis!

Infinity pool di Louis Kienne Hotel, kami bisa menikmati fasilitas ini dengan harga bersahabat berkat AirBnB

Selama di kota Semarang, setelah masa sewa mobil habis, kami selalu menggunakan jasa taksi online sebagai moda transportasi karena aman, nyaman, mudah dan relatif terjangkau karena akomodasi yang kami pilih sangat dekat dengan obyek wisata yang kami kunjungi.

Kami pulang ke Jakarta menggunakan kereta api dari Stasiun Tawang ke Stasiun Senen dan dilanjutkan dengan naik taksi online hingga ke rumah. Meskipun kami tiba di Jakarta pukul 2 pagi, alhamdulillah aman dan dapat driver yang baik. Stasiun Senen pun cukup ramai pada dini hari sehingga kami merasa cukup aman, Aiza juga tetap tidur nyenyak hingga sampai di rumah.

Wisata Kuliner

Kalau berkunjung ke kota baru, wajib mencoba berbagai makanan khas kota tersebut dong. Nah, berikut ini beberapa makanan yang kami coba. Tapi mohon maaf yaa tidak disertai foto dokumentasi pribadi karena sering langsung kalap dimakan, pas ingat mau difoto keadaan makanannya sudah memprihatinkan 😅. Anyway, semoga ulasannya tetap bermanfaat yaa.

Ayam Goreng dan Sop Buntut Pak Supar

Satu kata yang teringat soal restoran ini: heavenly. Ya Allah Gusti enak banget sop buntutnya! Super lembuuut kaya meleleh di mulut, kuahnya seger tapi bumbunya juga sedap banget. I would really love to go back just to eat their oxtail soup. Namun untuk ayam gorengnya menurut saya sih tidak terlalu istimewa, tapi memang sambalnya sangat enak. Restoran ini tidak ada di grab food atau gofood, jadi harus datang langsung, dan antriannya cukup lumayan. Untungnya, restorannya sangat dekat dari apartemen jadi saya dan Aiza bisa menunggu sementara Ayah beli dengan diantar abang ojol :).

Soto Bangkong

Tidak seperti namanya, Soto Bangkong bukan terbuat dari katak kok, sebenarnya ini soto ayam, hanya saja letaknya di ruko Bangkong Jalan Brigjen Katamso. Soto ini disebut-sebut soto legendaris karena sudah berdiri sejak tahun 1946. Soto ini berkuah bening dan berisi daging sapi, tauge, kol, tomat dan disajikan di mangkok kecil. Rasanya segar dan tidak membuat begah karena porsinya kecil. Uniknya, di tiap meja disajikan pula berbagai jenis sate, seperti sate kulit, telur puyuh, sate ati ampela, dsb.

Loenpia Mbak Lien

Sebenarnya saya tidak sempat masuk dan membeli sendiri lumpia ini, saya hanya duduk manis di mobil sambil memangku Aiza sementara teman-teman yang lain membeli lumpia untuk dimakan bersama di rumah. Jadi saya tidak bisa menggambarkan situasi di dalam seperti apa. Namun yang saya ingat lumpianya memang sangat enak, saya agak menyesal karena hanya membeli sedikit dan langsung habis dalam sekejap. Isiannya melimpah dan sausnya juga enak. Yum! Totally worth a try.

Tahu Bakso

Karena keterbatasan waktu kami membeli tahu bakso melalui gofood atas rekomendasi seorang teman. Tahu bakso ini sesungguhnya mirip bakso tahu yang saya biasa beli dari gerobak, saya tidak menemukan perbedaan signifikan pada rasanya, kecuali pada rasa tahunya karena memang rasa tahu cenderung berbeda-beda kan. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat, this is my least favourite part of my food experience in Semarang.

Wisata Budaya

Lawang Sewu

Jika mendengar Lawang Sewu yang terlintas dalam pikiran saya adalah cerita-cerita mistis dan betapa angkernya tempat ini. Tapi ternyata tidak demikian. Saat ini Lawang Sewu difungsikan sebagai Museum Kereta Api. Di sana kita bisa melihat foto-foto dan model-model kereta zaman dulu dan sejarah perkembangan kereta api di Indonesia.

Tempatnya sangat luas dan banyak ruangan kosong. Walaupun bangunannya tua tapi terlihat terawat dan enak dipandang, terutama bagi saya yang memang mengagumi bangunan tua. Di dalam kompleksnya juga terdapat lapangan luas yang bisa digunakan pengunjung untuk bersantai sambil menyantap makanan dari para pedagang yang berjualan di sana.

Untuk bisa mengeksplorasi Lawang Sewu pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar 10 ribu rupiah untuk dewasa dan 5 ribu rupiah untuk anak-anak. Di sana kami banyak berfoto-foto dan menjelajahi setiap area yang dapat dimasuki pengunjung. Namun karena cuacanya sangat panas, kami tidak berlama-lama di sana.

Bangunan lawas nan cantik
Pelataran Lawang Sewu luas dan terdapat beberapa tenda pedagang makanan dan minuman

Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong merupakan penanda tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho. Bangunannya sangat kental dengan budaya Tiongkok yang didominasi warna merah. Di dalam kompleks klenteng terdapat 4 bangunan utama dan sampai saat ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah. Turis yang ingin berkunjung dikenakan biaya masuk, sedangkan bagi yang hendak beribadah tetap harus membayar biaya masuk di awal, namun akan dikembalikan setelah selesai beribadah.

Kompleksnya sangat luas, ada pada waktu-waktu tertentu ada pertunjukan barongsai di area panggung utama. Pengunjung dipersilakan masuk ke bangunan klenteng, namun area untuk berdoa dibatasi oleh tali dan dijaga agar tidak sembarang orang berlalu lalang.

Kami tidak banyak berkeliling dan hanya menghabiskan sebagian besar waktu di Klenteng Besar yang berlokasi paling dekat dengan patung Laksamana Cheng Ho. Di sana lebih sejuk dan suasananya tenang. Kami memperhatikan bagaimana umat agama lain beribadah. Di klenteng ini juga terdapat Goa Batu yang menjadi tempat pemujaan utama, di sekitar pintunya kita dapat melihat relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksmana Cheng Ho.

Klenteng ini sangat layak dikunjungi bersama keluarga karena memiliki nilai edukasi sejarah, bangunannya indah, kita juga bisa mengajarkan anak-anak keberagaman budaya dan agama di Indonesia. Areanya juga sangat luas, anak-anak bisa bebas berlarian di lapangan (di luar area ibadah tentunya) atau menikmati wahana permainan sederhana di dekat pintu keluar klenteng.

Salah satu area ibadah di Klenteng Besar

Kota Lama Semarang

Kota Lama Semarang adalah tempat yang menjadi pilihan saya untuk dikunjungi, karena saya memang sangat suka dengan bangunan-bangunan tua dan kawasan kota tua yang dirawat dengan baik. Entah kenapa kesannya adem dan sangat memanjakan mata, mungkin karena saya biasa melihat gedung dan bangunan modern. Untungnya kawasan Kota Lama Semarang tidak terlalu jauh dari akomodasi kami. Sehingga tempat ini jadi tujuan pertama di hari terakhir kunjungan kami.

Suasananya sepi dan sejuk karena kami berkunjung di pagi hari, restoran dan kafe pun masih tutup sehingga kami tidak bisa berwisata kuliner juga 😢. Kawasannya tidak terlalu luas, dikelilingi dengan berjalan kaki pun tidak terlalu melelahkan. Di sana banyak area yang memang diperuntukkan bagi pemburu foto. Ada banyak sepeda onthel yang dihias, motor kuno, becak, semuanya bebas dipakai tanpa biaya namun disediakan juga kotak untuk menyumbang. Selain itu, di dekat Old City 3D Trick Art Museum ada area yang dilukis dengan mural menarik dan cocok dijadikan background untuk berfoto.

Sepanjang jalan saya merasa seperti sedang di Jalan Braga, Bandung karena jalannya cukup sempit dan tidak ditutupi aspal melainkan dengan paving block. Tak lupa juga ada lampu jalanan dengan desain antik. Di kawasan Kota Lama juga ada taman kecil yang bisa dijadikan tempat istirahat, berteduh dan tentu saja berfoto.

Menurut driver yang mengantarkan kami, pada malam hari kawasan ini akan dipenuhi dengan lampu, dan terlihat lebih cantik, namun juga lebih ramai. Jadi dikunjungi kapanpun akan menyenangkan, tinggal disesuaikan dengan preferensi masing-masing yaa. Saya pribadi sangat menikmati kunjungan kami di pagi hari, udaranya segar, sepi, bisa berfoto dengan santai, dan terutama tidak panas. Walaupun jadinya tidak bisa makan di restoran atau berkunjung ke museum atau masuk bangunan karena belum jam operasinya.

Special Entry: Stasiun Tawang

Stasiun Tawang jadi special entry di review perjalanan ini karena saya mengalami pengalaman menyenangkan selama di sini. Stasiun Tawang ini desain bangunannya seperti bangunan jadul, cantik, walaupun tidak terlalu besar. Areanya besar, dan cukup ramai, meskipun stasiunnya tidak terlalu besar namun fasilitasnya cukup lengkap, ada co-working space dan nursing room!

Saat perjalanan pulang Aiza cukup rewel karena kelelahan dan merengek ingin menyusui, akhirnya saya bertanya pada petugas security apakah ada ruang menyusui, dan ternyata ada namun letaknya di dalam sehingga saya harus check-in terlebih dahulu. Akhirnya saya mencetak boarding pass di fasilitas komputer yang disediakan dan bertanya lagi ke petugas yang sama. Bapaknya malah mengantar saya untuk check-in bahkan hingga ke depan pintu ruang menyusui. Terharu. Padahal sepele dan mungkin memang tugas beliau, tapi saya merasa sangat terbantu karena kondisinya saat itu saya juga sudah kelelahan.

Ruangan menyusui ini bagian dari ruangan kesehatan/klinik stasiun, di dalamnya terdapat meja untuk mengganti popok, wastafel, dispenser, kulkas kecil, plastik-plastik kecil untuk membungkus popok kotor, kursi panjang dan empuk untuk menyusui dan ruangannya ber-AC. Namun sayang saya tidak bisa menyertakan fotonya karena saat itu ada pengunjung lain juga yang sedang memompa ASI di sana.

Setelah disusui dan ganti popok pun Aiza jadi ceria kembali dan siap untuk perjalanan pulang 🙂

Suasana di depan nursing room Stasiun Tawang (dok. pribadi)

Tips Berdasarkan Pengalaman Perjalanan ini:

  • Pastikan estimasi waktu perjalanan dengan detail agar tidak terburu-buru saat berangkat, apalagi jika menggunakan moda transportasi umum seperti KRL, busway atau MRT untuk ke stasiun menuju kota tujuan.
  • Cari akomodasi di Airbnb, bayar pakai Kartu Jenius jika tidak punya kartu kredit karena lebih murah dan banyak pilihan walaupun pelayanan tidak seperti hotel, tapi bisa hemat biaya makan juga karena bisa masak sendiri
  • Bawa baju yang sejuk, topi, kipas, botol minum karena Jepara dan Semarang puanaaas bahkan untuk orang Jakarta
  • Bawa makanan instan dan snack favorit si kecil in case dia enggak mau makan makanan baru di tempat tujuan
  • Slow down~ enggak perlu ambisius bikin itinerary yang banyak dan padat. Usahakan cari akomodasi strategis yang dekat ke berbagai objek wisata untuk menghemat waktu dan tenaga
  • Perhatikan jam makan, tidur bayi dan moodnya untuk menghindari bayi rewel karena HALT (hungry, angry, lonely, tired). Hungry karena jam makan terabaikan; angry karena mesti ngikutin jadwal kaku yang ditentukan orang tua, lonely karena orang tua asik sendiri dan tired karena waktu tidurnya terganggu.
  • Bawa selimut, bawa boneka/mainan anak, bawa buku favorit anak agar anak nyaman dan anteng selama di kereta.

Overall, perjalanan kami ke Jepara dan Semarang sangat menyenangkan! Banyak objek wisata yang ramah anak dan bisa dikunjungi sekeluarga. Aiza juga cukup kooperatif dan jarang rewel selama kebutuhannya terpenuhi. Jadi tidak perlu ragu untuk melakukan perjalanan dan liburan ke Semarang bersama balita. 😉💖

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s