Lagom: Balanced Life as a Stay at Home Mum

Keseimbangan hidup dan ibu rumah tangga sepertinya bukanlah dua frasa yang lumrah untuk disatukan. “Mana bisa tetap merawat diri kalau anak rewel.” ; “Ah, rumah rapi mah cuma angan-angan”; “Baru mau istirahat sebentar si bayi sudah bangun lagi”; “Boro-boro ke salon, mau ke kamar mandi saja dibuntutin si bocah.” Kalimat-kalimat tersebut tidak asing untuk kami, para ibu muda yang seperti lupa rasanya memiliki me-time karena terus berkutat dengan rutinitas mengurus anak. Akibatnya, kami sangat rentan kehilangan keseimbangan antara mencintai orang-orang tersayang dan mencintai diri sendiri.

Lalu apakah benar keseimbangan hidup saya sebagai seorang ibu sudah kandas ketika sang buah hati hadir? Saya dulu sempat berpikir seperti itu, sampai saya mengenal Lagom. Layaknya Hygge dari Denmark dan Ikigai dari Jepang, konsep ini menawarkan keseimbangan hidup berdasarkan budaya dan filosofi masyarakat suatu negara, dalam hal ini adalah Swedia, salah satu negara Skandinavia dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia.

Dari semua konsep yang pernah saya baca, I find Lagom is particularly intriguing especially in the era of excess culture, budaya yang berlebih-lebihan. Di dunia yang semakin larut dalam pusaran konsumerisme, dimana membeli segala jenis komoditas bisa dilakukan dengan sangat mudah dan  masyarakat yang menilai materi sebagai tolak ukur kesuksesan, lagom menawarkan pandangan yang berbeda. Lagom bisa diterjemahkan menjadi “not too much, not too little” atau “tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak”, just-right amount of everything.

Continue reading “Lagom: Balanced Life as a Stay at Home Mum”