Takut

Saat pertama tahu akan menjadi ibu, perasaan yang paling dominan adalah takut. Khawatir akan banyak hal, memikirkan banyak skenario buruk. Bahkan hingga sekarang, bahkan hal-hal kecil mengenai anak pun bisa menjadi ketakutan yang besar.

Did I do well?
Have I made positive attachment with my baby?
Did I feed her enough?
Did she get enough nutrition for her golden age?
Why didn’t she gain weight this month? Is she sick?
Have I done enough to stimulate her development?
Why won’t she eat the food I made?
Is she happy?
Should I start discipline her?
Why didn’t I start bedtime routine?
Why can’t I make her stay in her high chair during mealtime?
Did she just get hurt? Why can’t I keep her safe?
Does she love me?
Am I a good mother?
Am I a good wife?
Am I a good daughter?
Am I a good sister?
Am I a good friend?
Am I a good human being?
Am I doing well in my life?
The list goes on….

Padahal, semua itu sudah ada yang mengatur dan mengurus kalau kita sudah berusaha dan meminta, tapi saya sering kali lupa. Terlalu sombong dan pongah berpikir semua bisa dikerjakan, diatur dan dibereskan sendiri, padahal yang memutuskan hasilnya bukan saya, yang menilai bukan saya.

Seringkali juga lupa merendahkan diri dan memohon agar apa-apa yang saya lakukan membuahkan hasil yang diharapkan dan diridhoi olehNya, dinilai ibadah olehNya, serta seringkali luput untuk menitipkan orang-orang yang saya sayangi untuk terus dalam lindunganNya. Karena itu saya sering merasa takut dan salah menempatkan rasa takut.

#Writober #Tema5 #Takut
#RBMIpJakarta
#ibuprofesionaljakarta