Random stories of living a life in the UK.

Akhirnya sudah genap enam bulan hidup sebagai mahasiswa S2 di Newcastle University, UK. Awalnya mau rutin menulis semua pengalaman selama tinggal dan sekolah di negara impian saya ini, tapi apa daya kemalasan dan tugas yang menerjang jadi penghalang haha. So, in one fine midnight I decided to write the summary of memorable experiences and events which happened. Nothing too special really, but I thought it might guide me walk down the memory lane when I miss this beautiful city (in particular, and the UK as a whole) in future years.

Entah kenapa sejak SMP atau SMA saya selalu ingin pergi ke Inggris, mungkin karena saya paling suka mata pelajaran Bahasa Inggris, atau mungkin karena saya tertarik dengan keluarga kerajaan Inggris, atau karena saya merasa aksen orang Inggris itu… menarik. Saya tidak bisa mengingat dengan jelas alasannya apa, but I’ve always wanted to go! Entah untuk sekolah atau sekedar jalan-jalan. It was like a distant reality at that time, but now that I am here I find that this country really is interesting.

Pertama kali sampai di sini yang dirasakan adalah…nervous, apalagi setelah kejadian Brexit dan isu Islamophobia atau xenophobia di negara-negara Eropa banyak jadi bahasan berbagai media online. Tapi yang paling utama adalah takut para native speakers ini tidak mengerti yang saya katakan dan malas berkomunikasi dengan saya, alhasil saat pesan makanan di Subway untuk makan malam pun saya mengingat-ingat pesanan dan latihan mengucapkannya dalam hati, walaupun sudah ‘latihan’ saya masih belum pede dan berakhir berbicara dengan suara amat kecil. Sesungguhnya yang membuat saya makin tegang adalah saya kurang mengerti yang diucapkan staff Subway  tersebut karena aksen Geordienya yang amat kental, betul-betul berbeda dengan percakapan yang ada di latihan atau tes IELTS. Hingga saat ini pun kadang saya masih kesulitan memahami aksen Inggris bagian utara, maka di saat kritis tersebut saya sering mengeluarkan jurusan andalan: senyum sambil menggangguk, atau ‘pardon?’.

Ternyata, kenyataan berkebalikan dengan kekhawatiran saya, mereka sangat sabar dan ramah, jika saya terlihat bingung mereka mengulang kembali ucapan mereka, pun sebaliknya, jika omongan saya sulit dipahami mereka dengan sabar mendengarkan penjelasan saya. Baru kemudian saya tahu orang-orang dari utara memang terkenal akan keramahannya. Saya sama sekali tidak pernah mengalami kejadian buruk karena saya orang Asia atau karena saya seorang muslim dan berhijab. Bahkan pada suatu ketika saya menyaksikan demonstrasi anti-immigrants dan anti-Islam, seorang Bapak bule yang berpapasan dengan saya tersenyum dan mengucapkan ‘Assalamu’alaykum’, I was pretty sure he was not a muslim, but he smiled and said salam to me as if he tried to tell me, ‘Don’t worry, you’re welcome here.’ I was startled and barely managed to smile back and reply his salam. It was quite a heartwarming experience, and even later that day, after the anti-immigrants demonstration, there was a counter-demonstration that support and welcome immigrants, and basically preach to stop Islamophobia, xenophobia, etc.

The Brits are generally very polite, yang paling berkesan dan mungkin agak berbeda dengan budaya orang Indonesia adalah, sering mengatakan ‘please‘ (walaupun saya juga bingung padanannya dalam Bahasa Indonesia apa), saat memesan makanan di restoran, berinteraksi di toko, supermarket, atau antar teman. Selain itu adalah kebiasaan sederhana menahan pintu, ketika kita keluar atau memasuki ruangan dan ada orang di belakang kita, we must hold the door for them, and in return they’ll say, ‘thanks!’ or ‘cheers, mate!’. Kebiasaan ini dilakukan oleh laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak muda. Mungkin sebenarnya kebiasaan seperti ini ada dimana-mana, but I think I rarely experience or do this back at home. Oh, satu lagi, setiap kali hampir bertabrakan dengan seseorang saat jalan kaki (or accidentally in each other’s way), they both will say sorry. Awalnya jika hal tersebut terjadi saya cuma bengong, dan biasanya langsung melengos, tapi setelah beberapa lama di sini, ketika saya merasa menghalangi jalan seseorang saya akan buru-buru bilang maaf, though that other people will eventually say sorry too.

Ada juga hal lain yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Dalam pikiran saya, kalau di luar negeri semua orang taat aturan, tidak akan ada pengemis, jalanan super bersih, transportasi umum tepat jadwal dan tempat pembuangan sampah dipisah sedemikian rupa agar sebagian besar dapat didaur ulang. Kenyataannya, di sini masih sering dijumpai homeless, terutama di area city centre, bahkan terkadang ada orang yang tiba-tiba menghampiri minta uang recehan.

Selain itu, tidak semua orang taat aturan, yang paling sering terjadi sih saat menyeberang jalan, walaupun lampunya belum menunjukkan boleh menyeberang, banyak orang nekat menyeberang jalan; menurut dosen suami saya, terkadang buat orang Inggris, aturan bukan merupakan suatu keharusan melainkan sebuah anjuran :)). Tapi yang cukup membuat saya tercengang adalah jalanannya tidak sebersih yang saya kira, tapi saya masih bingung apakah penyebabnya angin kencang yang kerap menerbangkan sampah-sampah, atau memang kesadaran membuang sampahnya masih kurang.

Ditambah lagi di area pusat kota masih jarang ditemui tempat sampah terpisah, bahkan di flat tempat saya tinggal tidak ada pengarahan khusus mengenai pemilahan sampah. Maka saya perhatikan banyak penghuni flat yang mencampurkan sampahnya, dan akhirnya walaupun saya berusaha memilah sampah tetap saja akhirnya digabung dengan jenis sampah yang lain :(. Tetapi di area kampus, tempat sampah yang terpisah sangat mudah dijumpai, karena universitas punya target untuk aspek sustainability yang harus dicapai, di bidang energi, penggunaan sumber daya maupun pengelolaan sampah.

Untuk soal public transportasi sebenarnya saya tidak memiliki banyak pengalaman, karena saya tinggal di area pusat kota dan semua bisa dicapai dengan jalan kaki. Seingat saya untuk metro (kereta dalam kota), jadwalnya reliable, tepat waktu dan relatif terjangkau, tapi untuk bus, cukup sering terlambat bahkan hingga lebih dari 30 menit dari jadwal yang tercantum di halte bus, mungkin hal ini cukup sering terjadi di Indonesia, tapi menunggu bus lebih dari 30 menit di tengah dinginnya cuaca dan angin kencang Newcastle sama sekali bukan ide yang bagus.

Overall, I love being in here, being in the UK, being in Newcastle. I fell in love with Newcastle instantly when I first arrived. Kotanya begitu cantik, dengan berbagai bangunan tua yang terawat dan tampak menyatu dengan pembangunan yang modern. Sedikit mengingatkan akan kota Bandung tercinta yang memiliki banyak bangunan tua, namun sayangnya banyak yang dibiarkan terbengkalai. Tapi sebetah apapun saya di sini, sesuka apapun saya dengan pemandangan dan tata kota Newcastle dan berbagai kemudahan aksesnya, saya tetap rindu kampung halaman :). Hingga saat ini masih tercabik antara sangat ingin segera pulang ke Indonesia dan kekhawatiran akan merasa amat kehilangan setelah meninggalkan Newcastle upon Tyne.

Sampai di sini dulu cerita random mengenai kehidupan di Inggris. Cerita selanjutnya mungkin akan fokus ke bidang akademik atau kehidupan sehari-hari, tergantung mood dan semangat saya haha. Why aye pet, I’ll see ya tomorroh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s